Dok: Humas Untar – CS
Penggunaan teknologi fiber-reinforced polymer (FRP) dinilai menjadi salah satu solusi potensial untuk memperkuat ketahanan bangunan terhadap gempa di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Prof. Ir. Tavio, S.T., M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., ACPE., APEC Eng. dalam seminar nasional pada rangkaian Civil National Expo (CNE) 2026 yang diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Sipil Tarumanagara (IMASTA) di Kampus I Untar, Sabtu (23/05/2026).
Membawakan topik “Perkuatan FRP untuk Ketahanan Seismik di Indonesia: Praktik Saat Ini dan Perkembangan Solusi Berkelanjutan”, guru besar di Departemen Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini menjelaskan bahwa Indonesia memiliki risiko gempa yang tinggi karena berada di wilayah cincin api (Ring of Fire), sehingga banyak bangunan publik seperti sekolah, rumah sakit, dan jembatan memerlukan perhatian khusus dalam ketahanan strukturnya. Menurutnya, perkuatan atau retrofit pada bangunan yang sudah ada menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kerusakan saat terjadi gempa.
Salah satu teknologi yang dinilai potensial adalah penggunaan fiber-reinforced polymer (FRP). FRP merupakan material penguat struktur yang dinilai lebih ringan, kuat, dan efektif untuk membantu meningkatkan ketahanan bangunan terhadap bencana.
“FRP akan paling efektif apabila diterapkan sebagai bagian dari alur retrofit yang dimulai dari assessment, penentuan target kinerja, desain berbasis kode, hingga eksekusi lapangan yang disiplin,” jelasnya.
Ia turut menambahkan bahwa pengembangan teknologi FRP di Indonesia masih terus berkembang, terutama dalam agenda riset terkait kalibrasi desain, ketahanan material di iklim tropis, pengembangan sistem rendah karbon, hingga penyusunan guideline nasional retrofit seismik.
Selain akademisi, seminar juga menghadirkan praktisi Ir. Anwar Susanto, S.T., M.T., yang membawakan materi bertajuk “Perkenalan GFRP sebagai Pengganti Tulangan Lentur pada Pelat”. Pada sesi ini, peserta diperkenalkan dengan penggunaan glass fiber-reinforced polymer (GFRP) sebagai alternatif material konstruksi yang lebih tahan korosi dan mendukung pembangunan berkelanjutan.
Ketua Ikatan Mahasiswa Sipil Tarumanagara, Marcellino Nicholas Adam, berharap CNE dapat terus menjadi wadah pengembangan mahasiswa teknik sipil Indonesia. “Kami berharap mahasiswa dapat terus berkembang, berkolaborasi, serta menghadirkan inovasi yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa dan kemajuan dunia konstruksi di Indonesia,” ungkapnya.
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Program Studi Sarjana Teknik Sipil Untar Dr. Ir. Daniel Christianto, S.T., M.T., IPM.; Sekretaris Program Studi Sarjana, Magister, dan Doktor Teknik Sipil Untar, Ir. Yenny Untari Liucius, S.T., M.T.; serta dosen, mahasiswa, dan peserta umum dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

