Pilih Laman
Dari Studi IKN, Rafama Tawarkan Model Pengelolaan Megaproyek

30 Juni 2026

Oleh: Humas Virly

Share

Dok: Humas Untar – VC

Koordinasi antarlembaga dan manajemen risiko menjadi dua faktor yang paling menentukan keberhasilan pengelolaan megaproyek. Sebaliknya, pelacakan manfaat proyek masih kerap terabaikan, sementara pengelolaan sumber daya belum memberikan pengaruh langsung terhadap kinerja program.

Temuan tersebut disampaikan Rafama Dewi dalam sidang terbuka Program Studi Doktor Teknik Sipil Universitas Tarumanagara (Untar), Selasa (30/6/2026), saat mempertahankan disertasi berjudul Model Manajemen Program Megaproyek: Studi Kasus Proyek Pembangunan dalam Kementerian PU-PKP di Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Melalui penelitian ini, saya menawarkan model manajemen program adaptif yang mampu menjawab kompleksitas pengelolaan megaproyek, khususnya dalam aspek koordinasi, alokasi sumber daya, pelacakan manfaat, dan manajemen risiko agar pelaksanaan proyek dapat berjalan lebih efektif,” ujarnya.

Penelitian tersebut dilatarbelakangi kompleksitas pengelolaan megaproyek yang melibatkan banyak pemangku kepentingan, sumber daya dalam jumlah besar, serta tingkat ketidakpastian yang tinggi. Kondisi tersebut menuntut pendekatan manajemen yang lebih adaptif dibandingkan model konvensional agar pelaksanaan program dapat berlangsung lebih efektif sekaligus menghasilkan manfaat yang optimal.

Untuk menguji model tersebut, Rafama menggunakan metode campuran. Analisis kuantitatif dilakukan melalui Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM), sedangkan analisis kualitatif dilakukan melalui wawancara yang diolah menggunakan perangkat lunak NVivo 15.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa koordinasi dan manajemen risiko berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kinerja program. Sementara itu, alokasi sumber daya hanya memberikan pengaruh secara tidak langsung, sedangkan pelacakan manfaat masih belum menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan megaproyek.

Berdasarkan temuan tersebut, Rafama mengembangkan Model Manajemen Program Adaptif yang menempatkan satuan tugas (Satgas) sebagai penghubung koordinasi, alokasi sumber daya, pelacakan manfaat, dan manajemen risiko melalui mekanisme umpan balik yang berkelanjutan. Model tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan organisasi dalam merespons perubahan selama pelaksanaan megaproyek.

Penelitian ini juga menemukan bahwa komunikasi yang belum optimal, distribusi sumber daya yang kurang efektif, serta lemahnya evaluasi manfaat masih menjadi kendala utama dalam pengelolaan megaproyek. Karena itu, model yang dikembangkan diharapkan dapat memperluas pendekatan manajemen program dari model konvensional menuju model adaptif yang lebih relevan diterapkan pada proyek-proyek berskala besar di negara berkembang.

Dalam sidang yang dipimpin Rektor Untar Prof. Dr. Amad Sudiro, S.H., M.H., M.Kn., M.M., Rafama berhasil mempertahankan disertasinya dan resmi menyandang gelar Doktor Teknik Sipil sebagai doktor ke-113 Untar. Saat ini, Rafama menjabat sebagai Direktur PT Manajemen Konstruksi Mapronesia sejak 2014. Ia juga menjadi dosen tetap Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Sains Terapan dan Teknologi, Institut Sains dan Teknologi Nasional Jakarta. (VC/YS)

Berita terbaru

Agenda

 

21 Juli Architectural Design Week 2026
12-14 Agustus PKKMB 2026
17 Agustus Hari Kemerdekaan Republik Indonesia

 

Universitas Swasta di Jakarta, Universitas Swasta Terbaik, Universitas Tarumanagara, UNTAR