Dok: Humas Untar – VC
Dalam rangkaian acara yang sama pada iNews Campus Conect (ICC), SINDO Sharing Session menjadi sesi ketiga dalam kegiatan yang berlangsung pada Rabu (26/11/2025), di Kampus I Untar. Mengusung tema “Bijak Bermedia Sosial: Cara Ampuh Tangkal Hoaks”, kegiatan ini membahas ancaman dan tindakan yang dapat menjadi solusi dari informasi palsu di tengah perkembangan digital yang kian masif.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Nezar Patria, menyampaikan bahwa Indonesia saat ini berada dalam gelombang transformasi digital yang intens. Ia menegaskan bahwa hoaks tidak hanya menjadi ancaman informasi, tetapi juga ancaman sosial karena kemampuannya menciptakan persepsi publik secara cepat melalui media sosial.
“Literasi digital berkorelasi positif dengan kemampuan seseorang untuk membedakan antara berita benar dan berita palsu,” ujar Nezar. Ia menjelaskan bahwa Komdigi terus menjalankan program literasi digital sebagai fondasi utama bagi masyarakat untuk mengenali hoaks, misinformasi, dan malinformasi.
Diskusi turut menghadirkan Social Media Expert Eda Nasution, Senior Editor sekaligus anggota Tim Pemeriksa Fakta AJI Jakarta Asnil Bambani, serta Kaprodi Ilmu Komunikasi Untar, Dr. Sinta Paramita, S.I.P., M.A. Para pembicara menyoroti bagaimana hoaks dalam ekosistem digital yang serba cepat mampu memengaruhi opini, menciptakan distorsi informasi, dan merusak ruang publik.

Para pembicara SindoNews Sharing Session dalam kesempatan yang sama // Dok: Humas Untar – VC
Asnil Bambani menjelaskan bahwa informasi hoaks sering kali dikemas seolah-olah sebagai solusi sehingga menipu audiens. Ia menyebut hoaks sebagai “virus informasi” karena dampaknya dapat terus bergulir dan menular dari satu kelompok masyarakat ke kelompok lain.
Eda Nasution menambahkan bahwa hoaks tidak hadir dalam satu bentuk saja, melainkan bervariasi dan tidak semuanya memiliki tingkat bahaya yang sama. Menurutnya, kesadaran masyarakat terhadap hoaks semakin meningkat seiring waktu, namun edukasi tetap menjadi kebutuhan penting agar masyarakat dapat mengidentifikasi hoaks dengan lebih cepat.
Sementara itu, Dr. Sinta Paramita menuturkan bahwa disinformasi telah menjadi salah satu fokus utama dalam penelitian ilmu komunikasi. Ia berharap pada masa mendatang akan hadir lebih banyak kolaborasi antarpemangku kepentingan untuk menghadirkan inovasi, termasuk pengembangan aplikasi atau sistem deteksi informasi palsu. Upaya kolektif dinilai perlu untuk menjaga ruang digital tetap sehat dan terpercaya.
Melalui kegiatan ini, para narasumber sepakat bahwa literasi digital dan kesadaran kolektif menjadi langkah strategis dalam menangkal penyebaran hoaks yang telah berkembang cepat melalui algoritma media sosial. (VC/YS)

