Dok: Humas Untar – RJ
iNews Campus Connect (ICC) berkolaborasi dengan Universitas Tarumanagara (Untar) kembali melanjutkan rangkaian kegiatan pada hari kedua, Kamis (27/11/2025), di Kampus I Untar. Mahasiswa dari berbagai fakultas sebagai target peserta memadati auditorium, disertai kehadiran sejumlah peserta dari kampus lain.
Pada hari kedua, ICC menyelenggarakan dua sesi seminar bertajuk GENZONETALKS dan RAKYAT BERSUARA. Kedua sesi ini dirancang untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai perkembangan industri kreatif serta dinamika demokrasi di era digital.
Sesi pertama, GENZONETALKS mengangkat tema “Turning Fashion Creativity into Sustainable Business” yang dipandu oleh Wakil Pemimpin Redaksi Okezone, Bernadheta Ginting. Talkshow ini menghadirkan para praktisi dan pelaku bisnis lokal di bidang fesyen, di antaranya Angkie Yudhistia selaku Founder Inclusive Brand dan Istafiana Candarini selaku Owner and Director Kami Idea. Keduanya membagikan pengalaman dalam membangun usaha fesyen yang tidak hanya berfokus pada estetika, tetapi juga keberlanjutan dan inklusi.
“Industri kreatif saat ini tidak hanya menuntut karya yang menarik, tetapi juga keberpihakan pada keberlanjutan agar bisnis dapat bertahan,” ujar Angkie saat memaparkan pandangannya di hadapan peserta. Sejalan dengan itu, Istafiana menambahkan, “Kolaborasi, riset, dan pemahaman konsumen menjadi kunci dalam mengembangkan produk lokal agar memiliki daya saing jangka panjang.”
Memasuki sesi kedua, RAKYAT BERSUARA membahas tema “Demokrasi Digital, Berpikir Kritis Tanpa Drama”. Dialog ini menyajikan perspektif dari beragam profesi, yaitu Pakar Ekonomi Politik Ichsanuddin Noorsy, Content Creator Fathian Pujakesum, Komika Soleh Solihun, serta Wakil Menteri Diktisaintek, Stella Christie. Sesi ini dimoderatori oleh Pemimpin Redaksi iNews, Aiman Witjaksono.
Dalam pemaparannya, para pembicara menekankan pentingnya literasi digital bagi masyarakat. Mereka menjelaskan bahwa era digital mempercepat arus informasi, namun tanpa kemampuan berpikir kritis, masyarakat menjadi lebih rentan terhadap manipulasi.
Sementara itu, Stella Christie menyoroti peran generasi muda. “Mahasiswa memiliki posisi strategis dalam menjaga kualitas demokrasi digital melalui partisipasi yang bertanggung jawab dan berbasis data,” tuturnya.
Selain seminar, gelaran ICC turut menghadirkan sesi informasi beasiswa luar negeri melalui kerja sama bersama UNSW Sydney. Pemaparan mengenai peluang studi dan beasiswa disampaikan oleh Country Director–Indonesia UNSW Sydney, Nur Fatmah Syarbini, yang menjelaskan berbagai skema beasiswa dan persiapan akademik bagi mahasiswa yang berminat melanjutkan pendidikan internasional.
Dengan rangkaian sesi yang memadukan ilmu, inspirasi, serta perspektif kritis, hari kedua ICC memberikan ruang pembelajaran multidisipliner bagi peserta. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi yang memperkaya pengalaman mahasiswa dan memperluas akses terhadap informasi akademik, profesi, dan peluang berjejaring. (VC/YS)

