Pilih Laman
Grace Kurniadi, Lulusan Psikologi Klinis Tuna Rungu Pertama di Indonesia

7 Februari 2021

Oleh: Humas UNTAR

Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Untar meluluskan Grace Kurniadi sebagai Psikolog tuli pertama di Indonesia. Bermula dari usulan orang tua dan masukan dari teman-temannya, Grace memilih profesi psikolog. “Saya memilih pendidikan sebagai psikolog berawal dari usulan orang tua. Mereka melihat saya sering menjadi tempat bercerita bagi teman-teman di masa SMP dan SMA. Saya juga senang untuk mengamati hubungan antarmanusia,” katanya.

Jurusan pilihan Grace adalah Pendidikan Profesi Psikolog yang merupakan salah satu jurusan unggulan di Untar. “Jurusan tersebut hanya tersedia di Untar dan berada di area yang paling dekat dengan Jakarta. Selain itu, karena akses transportasi lebih mudah, dan juga ada satu mata kuliah yang jarang ada di kampus lain seperti art therapy, yang menurut saya menjadi nilai tambah dari Pendidikan Profesi Psikolog di Untar ,”jelasnya.

Sebagai seorang tuli tentu perkuliahan dilalui dengan penuh perjuangan yang tidaklah mudah. Namun, berbagai kendala yang ada dilewati tanpa mengeluh. “Kendala yang saya alami dengan adanya ketulian dalam proses belajar, yaitu sulitnya menangkap gerakan bibir jika: orang yang berbicara membelakangi saya, senang berjalan-jalan, berbicara terlalu cepat/ berkumur-kumur gerakan bibirnya, ataupun artikulasinya tidak jelas. Hal lainnya, saya kurang bisa menanggapi dengan cepat jika masuk ke dalam kelompok lebih dari empat orang,” terangnya.

Namun demikian, Grace selalu berusaha mengatasinya dengan berkomunikasi yang baik dengan dosen khususnya terkait perkuliahan yang ia ambil seperti berkomunikasi untuk menjelaskan kondisinya serta meminta dosen tersebut untuk berbicara lebih perlahan agar mudah dipahami serta merekam proses perkuliahan untuk bisa diputar ulang kembali di rumah untuk memastikan tidak ada yang terlewat.

Menurutnya, dalam menghadapi tantangan yang ada selama berkuliah, perlu adanya perubahan cara berpikir, memiliki sikap terbuka dan memiliki kemauan untuk menerima keadaan. Selain itu, peran dan dukungan keluarga serta teman-teman sangat membantunya selama ini. Profesionalitas dosen pun turut mendukung dalam penyelesaian studinya.

“Untuk bisa melewati kesulitan-kesulitan tersebut, saya perlu mengubah pola pikir di dalam diri menjadi lebih positif, keterbukaan diri untuk meminta bantuan dan kemauan untuk menerima apapun keadaan diri sendiri. Berkat bantuan teman-teman selama proses perkuliahan tersebut yang mendukung dan mau membantu saya juga menjadi penyemangat untuk terus berjalan menyelesaikan yang sudah dimulai. Para dosen pun juga tidak keberatan untuk menjelaskan kembali di luar jam kelas. Orang tua pun juga terus mendorong untuk tetap maju, meski jika saya perlu mengulangi lagi. Tidak dari orang tua saja, saya juga mendapatkan dorongan dari hal yang saya amati pada lingkungan teman, dosen, dan juga buku yang saya baca,” katanya menerangkan.

Grace yang mengambil pendidikan Profesi Psikolog di Untar ini memiliki mimpi ingin bisa menjadi berkat bagi sesama juga dapat menulis buku. Ia juga berharap setelah lulus, bisa berbagi juga mengembalikan, dan bisa mengaplikasikan ilmu yang sudah didapatkan pada orang yang membutuhkan. Ia juga ingin mempelajari bahasa isyarat, agar teman-teman Tuli dapat mengakses layanan konseling dan dapat lebih nyaman berinteraksi, tanpa perlu menggunakan bantuan interpreter yang mungkin dapat memunculkan ketidaknyamanan pada calon klien tersebut.

Grace berharap adanya kesempatan pendidikan inklusif di perguruan tinggi seperti Untar yang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapapun, khususnya bagi orang dengan kebutuhan khusus.

“Sebagai lulusan Profesi Psikolog dengan keterbatasan fisik yang di wisuda, harapanku terhadap Untar sebagai lembaga pendidikan tinggi adalah terus memberikan kesempatan bagi mahasiswa-mahasiswinya untuk meneruskan pendidikannya di Untar, tanpa mendiskriminasikan mahasiswa tersebut. Saya juga mengapresiasi Untar yang memiliki desain yang cukup ramah untuk pengguna kursi roda. Semoga di saat pandemi usai, Untar dapat mengembangkan desain gedung yang ramah bagi keterbatasan fisik dalam penglihatan,” katanya sambil menutup wawancara. -SW-

-JS-

7 Februari 2021, KS, PKM.

Berita terbaru

Agenda

1 Okt Dies Natalis ke-63 Untar
3 Okt Research Week Untar
7 Okt Seminar Kebudayaan
7 Okt Pagelaran Wayang
15 Okt Wisuda ke-80 Untar