Pilih Laman
Mengetahui dan Mengerti

11 Juli 2016

Oleh: Admin Pusat

MENGETAHUI DAN MENGERTI Oleh: Prof. Dr. Dali Santun Naga Staf Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara   Ahli psikologi Carl Gustav Jung pernah menulis buku dengan judul yang cukup menarik perhatian. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, judul buku itu menjadi The Undiscovered Self. Pokok isi buku itu membahas tentang hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Di dalam buku itu terdapat hal-hal yang cukup menarik terutama tentang pengetahuan seseorang akan dirinya sendiri. Di dalam pembahasan itu, Jung sampai kepada suatu pasang kata yang hampir bersamaan artinya. Kata itu adalah knowledge dan understanding atau di sini kita namakan saja pengetahuan dan pengertian. Sekalipun bersamaan arti, menurut Jung, dua hal itu adalah sangat berbeda. Pengetahuan sangat berbeda dengan pengertian. “Pada asasnya,” kata Jung, “keuntungan positif dari pengetahuan, khususnya, bekerja ke arah ketidakuntungan bagi pengertian, dengan penilaian yang diperoleh dari mereka, cenderung menjadi sesuatu yang paradoks.” Dengan kata lain yang lebih sederhana, pengertian tidak sama dengan pengetahuan dan bahkan mereka dapat saja bertentangan, atau makin mengetahui makin tidak mengerti. Tentunya pandangan Jung ini perlu kita lihat dari arti kata pengetahuan dan pengertian seperti yang diartikan oleh Jung. Tentang pengetahuan, Jung berkata, bahwa setiap teori yang didasarkan atas pengalaman memiliki sifat statistika. Pengetahuan seperti ini merumuskan rerata ideal yang menghapus semua pengecualian di kedua ujung skala serta mengganti mereka dengan  rerata abstrak. Untuk menjelaskan maksud itu, Jung menggunakan analogi ke massa batu. Jika saya, kata Jung, menentukan massa dari setiap batu pada sekumpulan batu serta menemukan suatu massa rerata sebesar 145 gram maka hal ini menerangkan sangat sedikit tentang sifat sesungguhnya dari batu itu. Kalau dari kumpulan batu itu kita ingin memperoleh batu yang persis bermassa 145 gram maka mungkin saja kita tidak akan menemukannya. Massa rerata sebesar 145 gram ini, menurut Jung, adalah pengetahuan kita akan massa batu yang ada di dalam kelompok batu. Pada pengetahuan, ciri individu dari setiap batu telah ditiadakan serta diganti dengan ciri rerata dari semua batu itu. Teori adalah bagaikan massa rerata itu. Teori adalah generalisasi dari banyak pengalaman. Dan generalisasi itu mengalami pererataan secara statistika. Pengertian, kata Jung, menyangkut semua ciri individu. Karena ciri individu ini telah direratakan oleh pengetahuan maka pengertian tidak sama dengan pengetahuan. “Kalau saya ingin mengerti seorang manusia,” kata Carl Jung, “maka saya harus menyingkirkan semua pengetahuan ilmiah saya tentang manusia rerata serta membuang semua teori agar saya dapat mengambil sikap yang seluruhnya baru dan tidak berprasangka.” Jadi menurut pandangan Jung, pengertian adalah pengenalan kita secara individu terhadap sesuatu. Kalau dokter mengobati pasiennya yang sakit maka biasanya dokter itu mencoba untuk mengerti pasiennya. Jika seorang dokter mengobati dua orang pasien yang sama sakitnya maka belum tentu mereka memperoleh obat yang sama. Pengertian dokter akan dua pasien itu menyebabkan ia memberikan obat yang paling sesuai untuk tiap pasien. Dan obat itu bisa saja tidak sama. Pengertian dan pengetahuan ini muncul di dalam filsafat ilmu dalam ilmu dan pilihan bebas (teleologi). Ilmu adalah sejalan dengan pengetahuan Juang sedangkan pilihan bebas adalah sejalan dengan pengertian Jung. Tetapi, menurut Jung, pengertian atau pilihan bebas ini memiliki suatu kelemahan. Untuk dapat mengerti, kita harus cukup dekat dengan subyek yang akan kita mengerti itu. Namun hal ini mengandung risiko bahwa kita mempengaruhi subyek itu. Jadi, subyek sebelum kita dekati dan yang sudah kita dekati bisa saja berbeda. Dengan kata umum, hal ini dapat kita nyatakan sebagai alat ukur mempengaruhi sasaran ukur. Memang berabe juga. Pengetahuan kurang memberi informasi yang rinci. Pengertian yang mampu memberi informasi rinci dicemari oleh pengaruh alat ukur terhadap subyek ukur itu.   Dari majalah Parameter, Nomor 48, Desember 1985.   (ST-Enes) Sumber gambar: koleksi pribadi admin

Berita terbaru

Agenda

1 Okt Dies Natalis ke-63 Untar
3 Okt Research Week Untar
7 Okt Seminar Kebudayaan
7 Okt Pagelaran Wayang
15 Okt Wisuda ke-80 Untar