Dok: Humas Untar
Universitas Tarumanagara (Untar) dan Rumah Sakit Soeharto Heerdjan menjajaki pengembangan penelitian klinis yang dapat mempertemukan kepakaran akademisi dengan kebutuhan di bidang kesehatan. Peluang tersebut dibahas dalam pertemuan kedua institusi di Kampus I Untar, Senin (28/9/2026).
Pertemuan melibatkan Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Psikologi (FPsi), serta Clinical Research Unit (CRU) Rumah Sakit Soeharto Heerdjan. Kegiatan tersebut merupakan kunjungan balasan sekaligus tindak lanjut pertemuan Untar di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan pada 3 Juni 2026.
Wakil Rektor Untar Assoc. Prof. Sri Tiatri, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog mengatakan, pertemuan tersebut membuka kesempatan bagi kedua institusi untuk mengenali potensi penelitian masing-masing sekaligus mengembangkan jejaring penelitian.
“Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi Untar dan Rumah Sakit Soeharto Heerdjan untuk saling mengenal potensi penelitian yang dimiliki serta melihat peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, tim CRU memperkenalkan peran dan layanan yang dapat mendukung pelaksanaan penelitian klinis. Kedua pihak juga membahas kebutuhan penelitian di lingkungan Untar serta sejumlah kemungkinan kolaborasi yang dapat dikembangkan.
Direktur Utama Rumah Sakit Soeharto Heerdjan dr. R. Soeko W. Nindito D., MARS mengatakan, keberadaan CRU dapat mendukung pelaksanaan penelitian klinis sekaligus membuka ruang kerja sama dengan perguruan tinggi.
“Melalui kunjungan ini, kami ingin memperkenalkan peran CRU dalam mendukung pelaksanaan penelitian klinis sekaligus menjajaki bentuk kolaborasi yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi penelitian di Untar,” tegasnya.
Kepala Clinical Research Unit Ns. Neng Esti Winahayu, M.Kep., Sp.KepJ. menambahkan, kolaborasi dapat dikembangkan melalui pemetaan kebutuhan penelitian dan peningkatan kapasitas peneliti.
“Kami berharap dari pertemuan ini dapat teridentifikasi kebutuhan dan potensi penelitian yang bisa dikembangkan bersama, termasuk dalam mendukung peneliti agar lebih siap melaksanakan penelitian klinis,” ujar Esti.
Penjajakan tersebut membuka peluang pengembangan penelitian klinis, peningkatan kapasitas peneliti, serta penguatan jejaring penelitian antara rumah sakit dan perguruan tinggi. Kolaborasi diharapkan tidak berhenti pada pengembangan kapasitas kedua institusi, tetapi juga menghasilkan penelitian yang dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat. (VC/YS)

