Pict Source: iStock.Photo
Di tengah dinamika geopolitik global yang kian memanas, tekanan terhadap perekonomian dunia semakin terasa. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel tidak hanya berdampak pada kawasan terkait, tetapi juga merambat luas ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam situasi ini, kewaspadaan dan langkah antisipatif menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Menurut Prof. Ir. Carunia Mulya Firdausy, M.ADE., Ph.D., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untar, meskipun ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM dari Selat Hormuz relatif rendah dibandingkan negara seperti Korea Selatan, Jepang, China, dan India, bukan berarti Indonesia dapat bersikap pasif. Penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz tetap akan memengaruhi rantai pasok energi global, termasuk negara-negara pemasok BBM Indonesia seperti Singapura, Malaysia, India, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Pria yang juga merupakan pengamat ekonomi Indonesia ini menjelaskan bahwa dampak yang muncul tidak hanya terbatas pada kenaikan harga energi, tetapi juga menjalar ke berbagai bentuk inflasi, seperti administered price inflation, import inflation, cost inflation, hingga expected inflation. Jika tidak diantisipasi, tekanan ini dapat memengaruhi sumber pertumbuhan ekonomi, baik dari sisi permintaan agregat, penawaran agregat, maupun sektor-sektor ekonomi lainnya. Bahkan, kondisi tersebut berpotensi mengguncang pasar keuangan, nilai tukar, sektor riil, serta menghambat target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,4 persen pada tahun 2026.
Dalam jangka pendek, terdapat sejumlah langkah strategis yang dapat dilakukan pemerintah. Di antaranya adalah melakukan peninjauan ulang asumsi APBN 2026, menata ulang serta melakukan efisiensi belanja negara terutama pada program yang tidak memberikan leverage produktivitas dalam jangka pendek seperti IKN, PSN, dan MBG. Selain itu, kebijakan moneter yang diambil harus bersifat non-inflationary, terukur, dan tidak memberikan tekanan negatif pada nilai tukar. Pemerintah juga perlu menghilangkan berbagai distorsi di sektor riil serta membuka peluang lebih luas bagi perkembangan gig economy.
Di sisi lain, generasi muda juga memiliki peran penting dalam menghadapi situasi ini. Salah satu langkah konkret yang dapat dilakukan adalah dengan memprioritaskan konsumsi produk dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada produk impor. Pengurangan mobilitas berbasis kendaraan pribadi berbahan bakar BBM juga menjadi kontribusi nyata dalam menekan konsumsi energi.
Pemanfaatan teknologi digital menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas pendapatan, terutama di tengah potensi inflasi. Selain itu, penguatan jiwa kewirausahaan juga diperlukan agar generasi muda mampu bertahan secara ekonomi, bahkan dalam kondisi krisis. Aktivitas seperti berkebun dan beternak dapat menjadi alternatif dalam menjaga ketahanan pangan rumah tangga. Yang tak kalah penting adalah membangun sense of crisis agar generasi muda lebih adaptif terhadap perubahan situasi global.
Lebih jauh, tekanan global saat ini tidak hanya berpotensi memicu inflasi, tetapi juga berdampak pada pasar tenaga kerja. Struktur ketenagakerjaan Indonesia yang masih bersifat dual economy—terdiri dari sektor formal dan informal, serta wilayah urban dan rural—membuat sebagian kelompok lebih rentan terhadap dampak inflasi. Sektor informal, khususnya di pedesaan, cenderung lebih rentan karena minimnya perlindungan, tingginya sensitivitas terhadap biaya, serta terbatasnya akses pembiayaan. Sementara itu, sektor formal juga menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya produksi.
Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi tingkat pengangguran serta penciptaan lapangan kerja. Oleh karena itu, reformasi struktural di bidang ketenagakerjaan menjadi sangat mendesak, termasuk melalui peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan yang selaras dengan kebutuhan pasar kerja.
Prof. Carunia menambahkan pesan bagi lulusan baru akan tantangan ke depan menuntut kesiapan yang lebih dari sekadar kemampuan akademis. “Diperlukan kompetensi tambahan yang mampu menjadi pembeda di tengah persaingan yang semakin ketat. Kemampuan tersebut harus relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan era digital.” Dalam hal ini, peran pemerintah dan sektor industri sangat penting dalam membantu perguruan tinggi merancang lulusan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja ke depan.
Pada akhirnya, menghadapi ketidakpastian global bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Respons yang cepat, rasional, dan terukur menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global yang terus berkembang. (VC/YS)

