Dok: FT Untar
Lampion-lampion merah menggantung di beberapa sudut kampus Untar, memancar cahaya hangat di antara koridor kampus. Di bawahnya, mahasiswa berlalu-lalang seperti hari biasa, namun suasananya terasa lebih semarak. Warna merah tidak hanya menjadi hiasan, melainkan penanda datangnya Tahun Baru Imlek yang perlahan menghadirkan nuansa kebersamaan di tengah aktivitas perkuliahan.
Perayaan Tahun Baru Imlek di kampus ini bukan sekadar dekorasi musiman. Ia menjadi ruang pertemuan budaya, di mana Imlek bukan semata tradisi, namun mengandung filosofi kebersamaan yang menyertainya.
Secara historis, Imlek telah dirayakan lebih dari tiga milenium dalam peradaban Tiongkok. Namun, di lingkungan kampus, maknanya terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa. Nilai-nilai seperti menghormati orang tua, kerja keras, memperbaiki diri di tahun yang baru, serta menjaga relasi sosial, ternyata selaras dengan kehidupan akademik, seperti mengerjakan tugas kelompok, membangun jaringan pertemanan, hingga belajar beradaptasi dengan perbedaan.
Di Untar, keberagaman memang menjadi realitas harian. Mahasiswa datang dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang agama serta budaya yang berbeda. Imlek kemudian menjadi salah satu momen ketika perbedaan itu tidak terasa sebagai batas, melainkan sebagai pengalaman bersama.
Dari interaksi sederhana itu, toleransi tumbuh secara alami, bukan karena diajarkan secara formal di kelas, tetapi karena dialami langsung.
Atmosfer tersebut menunjukkan bahwa kampus bukan hanya ruang akademik, melainkan juga ruang sosial. Keberagaman bukan sekadar konsep yang dibicarakan dalam mata kuliah, melainkan praktik hidup sehari-hari.
Perayaan Imlek di Untar, pada akhirnya, bukan hanya milik satu kelompok, melainkan milik kita bersama karena menjadi momentum untuk saling mengenal, memahami, dan menghargai. Kampus menyediakan ruang interaksi yang memungkinkan dialog terjadi tanpa sekat, dan di sanalah nilai pendidikan bekerja lebih dalam dari sekadar teori.
Di tengah dunia yang semakin terhubung sekaligus rentan terhadap perpecahan, pengalaman sederhana seperti merayakan Imlek bersama justru memiliki makna penting. Ia membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara sosial, di antaranya mampu hidup dalam perbedaan, berpikir terbuka, dan menghargai identitas orang lain.
Di bawah cahaya lampion yang menggantung di area kampus, kebersamaan itu terasa nyata. Imlek menjadi pengingat bahwa harapan tahun baru bukan hanya soal keberuntungan pribadi, melainkan juga tentang merawat persatuan dan harmoni. Dan di Untar, nilai itu tumbuh setiap hari. (KS/YS)

