Pilih Laman
Dalang Milenial Melalui Cerita Wayang Hidupkan Semangat Multikultural

30 November 2022

Oleh: Admin Pusat

0

Peristiwa Geger Pacinan yang terjadi tahun 1740-1742 mengenalkan dan menyadarkan anak-anak muda bahwa multikultural merupakan kekuatan untuk menyatukan bangsa Indonesia. Dalam peristiwa tersebut 10 ribu orang Tionghoa menjadi korban oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang saat itu berkuasa. Mereka yang selamat, melarikan diri ke Keraton Mataram untuk meminta bantuan mengusir penjajah. Suku Jawa dan Tionghoa bersama-sama berhasil mengusir Belanda.

Hal tersebut disampaikan Foe Jose Amadeus Krisna, dalang milenial penggagas wayang multikultural, yang hadir sebagai salah satu pembicara dalam Festival Agen Perubahan Indonesia dengan tema “Merayakan Keberagaman melalui Pendidikan, Kebudayaan, dan Desain”, Rabu (30/11), secara daring.

Kegiatan yang diselenggarakan Fakultas Seni Rupa dan Disain (FSRD) Untar ini menghadirkan juga pembicara Dekan FSRD Untar Kurnia Setiawan, Ninawati Lihardja (Dosen Fakultas Psikologi Untar), dan M.F. Nilo Wardhani (Ketua Yayasan ATSANTI).

Ditambahkan Jose bahwa multikultural merupakan sebuah penghormatan terhadap perbedaan sosial yang terjadi pada setiap kehidupan Individu.

“Dalam membuat Wayang Geger Pacinan, saya benar-benar mempelajari budaya Jawa dan Cina. Berarti ikatan darah sangat kuat, sebuah kebahagiaan jika misalnya produk atau desain dapat memberikan yang baik bagi Indonesia,” jelasnya

Dikatakannya, warisan Tionghoa sudah ada 200 tahun sebelum masehi sehingga kebudayaan Tionghoa sudah berakar dari dalam sejak dulu dan iniliah semangat multikultural yang ingin dihidupkan kembali.

Penyelenggaraan Festival Agen Perubahan Indonesia diharapkan dapat menyadarkan masyarakat bahwa desain dapat menjadi media pendidikan serta merayakan keberagaman.

-SC/YS-

-AW-

Berita terbaru

Agenda

24 Jan Festival Kehumasan 2
28 Jan Kompetisi Regional Greenmech
2 Feb Perayaan Imlek