Pict Source: iStock.Photo
Selama bertahun-tahun, laki-laki kerap dikaitkan dengan gambaran harus kuat, tegas, mandiri, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Kalimat seperti “laki-laki tidak boleh cengeng” bahkan sudah akrab sejak seseorang masih kecil. Namun, gambaran tersebut perlahan mengalami perubahan.
Kini, muncul istilah soft masculinity yang menggambarkan bentuk maskulinitas yang lebih terbuka terhadap ekspresi emosi, kelembutan, kepedulian, dan kerentanan. Laki-laki tidak lagi selalu dituntut untuk menyembunyikan perasaan atau mempertahankan citra bahwa dirinya harus selalu kuat.
Perubahan ini dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Laki-laki semakin terbuka membicarakan perasaan, menunjukkan kasih sayang kepada keluarga dan pasangan, merawat diri, hingga mencari bantuan ketika menghadapi persoalan emosional. Hal tersebut menunjukkan bahwa ekspresi kelembutan tidak selalu bertentangan dengan identitas sebagai laki-laki.
Dari perspektif psikologi, kemampuan mengenali dan mengekspresikan emosi merupakan bagian penting dari kehidupan seseorang. Emosi bukan sesuatu yang hanya dimiliki perempuan. Rasa sedih, takut, kecewa, maupun membutuhkan dukungan merupakan pengalaman manusia yang dapat dialami siapa saja.
Namun, perubahan cara pandang terhadap maskulinitas bukan berarti bentuk maskulinitas lama sepenuhnya menghilang. Laki-laki masih dapat menghadapi tekanan sosial untuk terlihat kuat, sukses, mandiri, dan mampu menghadapi berbagai masalah tanpa bantuan orang lain.
Media sosial juga memiliki peran dalam membentuk gambaran baru tersebut. Konten mengenai hubungan, kesehatan mental, self-care, hingga kehidupan sehari-hari membuat laki-laki memiliki lebih banyak ruang untuk menunjukkan sisi dirinya yang sebelumnya dianggap kurang maskulin.
Meski demikian, soft masculinity bukan berarti laki-laki harus menjadi “lebih lembut” untuk dianggap modern. Setiap individu memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan dirinya. Yang berubah adalah ruang untuk menentukan sendiri seperti apa menjadi laki-laki tanpa harus sepenuhnya terikat pada stereotip.
Pada akhirnya, maskulinitas tidak harus memiliki satu definisi. Menjadi laki-laki dapat berarti kuat sekaligus mampu mengakui ketika sedang tidak baik-baik saja. Dapat tegas sekaligus peduli. Dapat mandiri sekaligus membutuhkan dukungan. Ketika pilihan tersebut semakin diterima, laki-laki memiliki ruang yang lebih luas untuk mendefinisikan identitasnya sendiri. (VC/YS)

