Pilih Laman
Humanisme Mahasiswa Untar

20 Mei 2021

Oleh: Humas UNTAR

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Pancasila 2021, Untar untuk pertama kalinya mengadakan acara Festival Humaniora dengan tema “Humaniora Untar Untuk Indonesia, Sukseskan Merdeka Belajar Kampus Merdeka” pada Kamis (20/5). Acara ini menghadirkan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, B.A., B.A., M.A., Ph.D., Pa Sahli Tk. III Bid. Sosbudkum HAM dan Narkoba Panglima TNI Mayjen TNI Tri Martono, S.I.P., M.I.P., Kasubdit 1 Dit Tipidsiber Bareskrim Polri Kombes Pol Dani Kustoni S.H., S.Ik. M.Hum., Tenaga Profesional Bidang Geopolitik dan Wawasan Nusantara Mayjen TNI (Purn) E. Imam Maksudi, S.E., Deputi Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI Dr. Wawan Wardiana, M.T. dan Rektor Untar Prof. Dr. Ir. Agustinus Purna Irawan.Dihadiri lebih dari 900 peserta sivitas akademika Untar acara berlangsung secara hybrid (luring dan daring).

Ketua Lembaga Pembelajaran Dr. Eko Harry Susanto, M.Si. melaporkan bahwa rangkaian Festival Humaniora ini merupakan tanggung jawab Untar dalam proses pembelajaran Merdeka Belajar, yakni dengan memperkaya praktek humaniora dalam Pancasila, pendidikan kewarganegaraan dan bahasa Indonesia. Dengan diselenggarakannya acara ini, diharapkan seluruh sivitas Untar memiliki nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila, menjunjung tinggi toleransi, kesatuan Republik Indonesia di tengah masyarakat, mengedepankan etika komunikasi, dan sikap positif lainnya sebagai wujud cinta tanah air.

Melalui sambutan, Wakil Rektor 1 Bidang Akademik Untar Dr. H. Rasji, S.H., M.H. menyampaikan bahwa Untar sudah mengembangkan kurikulum sesuai kompetensi dalam religi, kewarganegaraan serta bahasa Indonesia. “Dalam rangka mendukung pembelajaran Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan Humaniora, Untar sudah mengembangkan kurikulum sesuai perkembangan program studi yang memiliki kompetensi mendukung bangsa dalam religi, kewarganegaraan serta bahasa. Dalam proses ini terdapat perubahan yang saling terintegrasi, dan diharapkan dengan adanya satu mata kuliah Humaniora, dapat memenuhi high skill dan soft skill nilai berbangsa yang akan dipahami oleh setiap mahasiswa. Untuk itu kami membuat festival berbentuk lomba serta seminar ini juga untuk mengapresiasi seluruh mahasiswa,” jelasnya.

Sebagai pemaparan pembuka, Rektor Untar memberikan pembekalan awal kepada sivitas Untar tentang “Menjadi Pribadi yang Unggul dengan Mengembangkan Nilai Integritas, Profesional, dan Entrepreneurship (IPE) Berlandaskan Pancasila” Prof. Agustinus menjelaskan bahwa nilai-nilai dari Untar tersebut harus dipegang dan dijalani, karena ini merupakan hal penting dalam mewujudkan kesatuan Pancasila.

“Kita tidak bisa lepas dari kepentingan nasional dan Internasional. Kontribusi pendidikan untuk Indonesia ada agar Indonesia semakin maju. Siapa pun kita mari bersama memajukan Indonesia berlandaskan Pancasila dengan belajar membangun keunggulan pribadi melalui identifikasi dan menciptakan peluang, beradaptasi dengan cepat, memiliki keunggulan kompetitif dan mempunyai kepedulian terhadap sesama. Pelajaran Humaniora juga membuat kita bisa melihat sesuatu dengan jernih dalam satu kesatuan yaitu menjadi generasi unggul berjiwa Pancasila,” jelasnya.

Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, B.A., B.A., M.A., Ph.D. (Kepala BPIP), memberikan materi bertajuk “Pendidikan Pancasila sebagai Landasan Toleransi dalam Kehidupan Bermasyarakat” menjelaskan bahwa pendidikan sebagai landasan toleransi sangat penting untuk membekali mahasiswa dari paham-paham intoleransi. Ia juga menambahkan bahwa Pancasila ada untuk mengayomi kita sebagai warga negara. Dengan adanya semboyan “Bhineka Tunggal Ika” membuat persatuan menjadi nyata.

Mayjen TNI Tri Martono, S.I.P., M.I.P. (Pa Sahli Tk. III Bid. Sosbudkum HAM dan Narkoba Panglima TNI) menyampaikan materi terkait “Tanggung Jawab Mahasiswa Terhadap Persatuan Bangsa Indonesia” menjelaskan bahwa pentingnya memiliki komitmen jiwa raga untuk bangsa. “Tentunya untuk menjadi negara yang berdaulat, adil serta makmur yang berlandaskan Pancasila dan UUD 45, mahasiswa sebagai generasi bangsa dan refleksi hidup seharusnya memiliki komitmen jiwa raga untuk bangsa. Pendidikan yang ditempuh mahasiswa adalah pendidikan tertinggi, yang secara tidak langsung sudah menyetujui kontrak kontribusi untuk bangsa dan negara. Mahasiswa adalah tongkat untuk menopang bangsa yang harus mengoptimalkan potensi diri dengan membangun karakter. Hanya sosok mahasiswa berkarakter kuatlah yang mampu menjadi pemenang dan memimpin Indonesia di kemudian hari,” jelasnya.

Kombes Pol Dani Kustoni S.H., S.Ik. M.Hum. (Kasubdit 1 Dit Tipidsiber Bareskrim Polri) memaparkan materi berjudul “Peran Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Landasan dalam Mencegah Berkembangnya Berita Bohong/Hoax” menjelaskan bahwa negara Indonesia saat ini mengalami perkembangan teknologi yang semakin pesat dan kita harus meningkatkan kemampuan literasi digital saat ini. “Semua hal bisa bersikap provokatif dengan karakter kejahatan cyber yang harus dipahami. Ciri-cirinya antara lain anonymous, borderless, organized, tempat kejadian yang tersebar dan masif, kerugian yang melebihi kejahatan konvensional, serta dapat dilakukan di mana saja. Dengan demikian harus dilakukan upaya-upaya penanganan yaitu memberikan penerangan kepada masyarakat, menjaga kepercayaan publik kepada pemerintah dan aparat, menetralisir berita bohong, membuat berita sebagai penenang masyarakat dan yang terakhir adalah melakukan tindakan hukum,” jelasnya.

Materi berikutnya disampaikan oleh Mayjen TNI (Purn) E. Imam Maksudi, S.E. (Tenaga Profesional Bidang Geopolitik dan Wawasan Nusantara) dengan tema “Membangun Ketahanan Kampus dalam Suasana Harmoni” menyampaikan bahwa hal yang mempengaruhi khususnya terkait Humaniora dan Kebangkitan Nasional adalah sesuatu yang sangat luas dan penting dengan mahasiswa sebagai penerima tongkat estafet di dalamnya. “Untuk memahaminya kita tidak bisa lepas dari wawasan kebangsaan, yang karena itu kita harus menyadari siapa diri kita; adanya kelebihan dan kekurangan yang harus diatasi sehingga dengan kita memahami wawasan kebangsaan, kita akan membangun sikap saling percaya dan saling menjaga untuk memperkuat persatuan. Dengan demikian kita bisa semakin mempertegas bahwa NKRI dan Bangsa tetap utuh bersatu,” jelasnya.

Pada materi pemaparan terakhir yang disampaikan Dr. Wawan Wardiana, M.T. (Deputi Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi RI) dengan tema “Integritas dan Profesionalisme Mahasiswa untuk Mencegah Tindak Pidana Korupsi”. Disampaikan bahwa tugas KPK tahun ini bertambah satu, yang sebelumnya adalah pencegahaan, koordinasi. supervisi, penindakan, tahun ini bertambah adanya eksekusi. KPK memiliki strategi pemberantasan korupsi yang salah satunya yaitu pendidikan. Pencegahan melalui pendidikan bisa dilakukan jika partisipasi masyarakat terlaksana. Ia juga membahas bagaimana pentingnya peranan mahasiswa dalam hal ini. “Mengapa mahasiswa harus ikut berpartisipasi dalam pemberantasan korupsi? Karena semua orang, termasuk mahasiswa terdampak. Ada beberapa contoh tindakan “koruptif” mahasiswa yang harus dihindari di antaranya yaitu mencontek, titip absen, mark up uang buku, plagiat, proposal palsu, gratifikasi dosen, datang terlambat, dan penyalahgunaan uang beasiswa,” jelasnya. Ia juga berharap bahwa melalui kegiatan ini, mahasiswa berkesempatan memimpin bangsa untuk kedepannya seperti yang tertulis dalam UU Nomor. 44 tahun 2009 tentang Kepemudaan, dan ini berlandaskan dengan kompetensi dan integritas yang tinggi sehingga mahasiswa dapat menjadi pemimpin yang amanah,” jelasnya melengkapkan.

Acara Festival Humaniora ini tidak hanya menghadirkan narasumber yang kredibel dalam menyampaikan materi kepada sivitas akademika Untar, tapi juga dimeriahkan dengan adanya berbagai lomba diantaranya penulisan paper ilmiah, poster dan konten video. Lomba ini diikuti mahasiswa Untar dalam rangka menumbuhkan dan mendukung bangsa dalam pembelajaran religi, kewarganegaraan serta bahasa. Festival Humaniora ditutup dengan pemaparan materi oleh Jessica Fedora dan Reina Anggraeni sebagai pemenang pertama lomba penulisan paper bertema “Toleransi Menurut Pandangan Pancasila Dalam Membingkai Persatuan Indonesia di Kalangan Mahasiswa Tarumanagara” Mereka menyampaikan bahwa hingga saat ini mahasiswa Untar sudah menerapkan praktek humaniora di kampus dengan bentuk adanya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) antaragama, dan adanya waktu khusus menjalankan ibadat bagi sivitas akademika Untar. Melalui penyelenggaraan ini, Untar secara konsisten mewujudkan komitmennya dalam mengembangkan pembelajaran Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dicanangkan pemerintah Indonesia. -SS-

-JS-

20 Mei 2021, KS, PKM.

 

Berita terbaru

Agenda

1 Okt Dies Natalis ke-63 Untar
3 Okt Research Week Untar
7 Okt Seminar Kebudayaan
7 Okt Pagelaran Wayang
15 Okt Wisuda ke-80 Untar