Pilih Laman
SERINA berkolaborasi dengan Konsorsium Kesehatan LLDIKTI III 2021

8 April 2021

Oleh: Humas UNTAR

Ada yang spesial pada penyelenggaraan SERINA 2021 kali ini, berkolaborasi dengan Konsorsium bidang Kesehatan LLDIKTI Wilayah III dan diikuti 26 perguruan tinggi di Indonesia.

Bertema Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat dalam Bidang Kesehatan melalui Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan sub-topik Tantangan dan Peluang Penanggulangan Penyakit Infeksi di Abad 21.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untar Ir. Jap Tji Beng, Ph.D. menyampaikan bahwa kolaborasi Serina dengan Konsorsium bidang Kesehatan berhasil mempertemukan para dosen peneliti serta mahasiswa untuk mendiskusikan hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, yang harapannya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Rektor Untar, Prof. Dr. Ir. Agustinus Purna Irawan selaku tuan rumah dan Ketua Umum Konsorsium, mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak atas terselenggaranya acara ini. “Terima kasih, SERINA dan Konsorsium yang panitianya terdiri dari Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Universitas Pancasila, Universitas Pelita Harapan, Universitas Trisakti, Universitas Yarsi sebagai panitia, dan Untar sebagai tuan rumah dapat berkolaborasi meningkatkan pelayanan dengan memberikan media publikasi bagi kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Setiap tahun, Untar secara rutin menyelenggarakan berbagai seminar, baik tingkat nasional maupun tingkat internasional dengan mewajibkan para dosen dan mahasiswanya menghasilkan karya  melalui publikasi ilmiah agar dapat  meningkatkan kualitas para lulusan dan juga dosennya. Pendaftaran HKI dan inovasi selalu didorong untuk menjawab tantangan dan kebutuhan dunia profesi maupun industri serta masyarakat umum,” ujar Rektor.

Kepala LLDIKTI Wilayah III, Prof. Dr. Agus Setyo Budi, M.Sc. menyampaikan harapannya agar melalui seminar dan konsorsium dapat memfasilitasi serta menjadi sarana publikasi para dosen serta mahasiswa. “Semoga bermanfaat dan saya ingin melihat dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan, Guru Besar bidang kesehatan dapat dihasilkan melalui kegiatan ini,” ujarnya.

Acara dilanjutkan dengan rangkaian seminar yang dipandu oleh dr. Shirly Gunawan, Sp.FK., dari Untar selaku moderator. Pada sesi pertama Moh. Abdul Hakim, Ph.D., dari Universitas Sebelas Maret mengangkat topik tentang Pendekatan Mikro-Makro untuk Membangun Kesejahteraan Masyarakat dengan 3 premis dasar yaitu kesejahteraan masyarakat dapat tercapai melalui proses pengambilan kebijakan yang didasarkan atau didukung oleh data-data dan riset yang berorientasi pada kebijakan sehingga fokus pada pemecahan masalah, tidak sekedar mendeskripsikan saja. Hal terakhir adalah pendekatan mikro-makro untuk membantu peneliti menghasilkan temuan yang tidak hanya relevan dengan kebijakan publik tetapi juga inovatif secara teoritis.

Membahas pentingnya kebijakan yang didasarkan oleh data-data (evidence based policymaking), Abdul Hakim memberi contoh awal dengan studi kasus implementasi kebijakan pendidikan pada masyarakat Suku Laut di Karimun dimana persentase angka partisipasi pendidikan masyarakat lokal sangat rendah dibandingkan rata-rata persentase angka partisipasi pendidikan di Kabupaten Karimun, meskipun telah mencoba mengikuti berbagai kebijakan. Melalui penelitian Winarti dan Azizah dengan metode field study menemukan bahwa persoalannya ada pada ketidaksinergisan antara rumusan kebijakan dengan pola hidup dan sistem kultural yang berkembang pada masyarakat Suku Laut.

8

“Dengan kata lain disana ada diskoneksi dari tujuan kebijakan dengan bagaimana masyarakat mempersepsi dan mengkonstruksi realitas kehidupan mereka sehari-hari. Oleh karenanya, fungsi sinkronisasi kebijakan terletak pada kebutuhan penelitian empiris yang berorientasi pada proses pengambilan kebijakan,” ujar Abdul Hakim. “Evidence based policymaking dapat menjadi pemecah masalah melalui kebijakan. Selain itu cara ini juga dapat menciptakan proses akumulasi pengetahuan yang bisa menghasilkan dampak yang nyata bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dan menghasilkan gagasan teoritis yang inovatif,” tambahnya.

Di sesi selanjutnya dosen Untar dr. Velma Herwanto, Sp.PD., Ph.D. yang mengangkat topik “Tantangan dan Peluang Penanggulangan Penyakit Infeksi di Abad 21”, mengawali pembahasannya dengan memaparkan definisi penyakit infeksi, dimana infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme seperti bakteri, virus, jamur, ataupun parasit dan dapat bertransmisi antarmanusia, melalui serangga atau hewan, ataupun produk yang terkontaminasi.

“Dalam menghadapi penyakit infeksi, negara Indonesia memiliki banyak tantangan antara lain kepadatan penduduk, tingkat kemiskinan dan pengetahuan tidak merata, dan rasio pelayanan fasilitas kesehatan yang tidak merata pula. Penyakit infeksi sebenarnya adalah penyakit yang dapat dihindari dengan biaya rendah tapi akibat yang ditimbulkan saat ini mencapai 390 ribu kematian per tahunnya, seharusnya  dapat dicegah. Dari permasalahan serta tantangan tersebut, dapat dilakukan pencegahan dengan meningkatkan rasio posyandu atau tempat pelayanan kesehatan, cakupan imunisasi dasar pada bayi dan balita diperluas, serta strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Short-course) yaitu memberikan seorang pengawas untuk memperhatikan secara langsung pasien ketika meminum obatnya dalam waktu 2 bulan pertama,” jelas dr. Velma mengakhiri presentasinya. -NR-

-JS-

28 April 2021, LIT, KS, PKM.

 

Berita terbaru

Agenda

1 Okt Dies Natalis ke-63 Untar
3 Okt Research Week Untar
7 Okt Seminar Kebudayaan
7 Okt Pagelaran Wayang
15 Okt Wisuda ke-80 Untar