Pilih Laman
Toxic Productivity: Musuh Tersembunyi Generasi Muda

20 Januari 2021

Oleh: Admin Pusat

Sebagai anak muda, tentunya ada keinginan membara dalam diri kita untuk menjadi maju, memanfaatkan masa muda selagi belum terlambat. Kita masing-masing mempunyai ambisi yang berbeda-beda. Ada yang berambisi untuk mengejar beasiswa, aktif di organisasi, hingga membangun bisnis sendiri.

Selama ini, masyarakat sudah terbiasa memuja orang-orang yang berhasil meraih ini itu dalam waktu dekat. Apalagi dengan adanya media sosial, semakin banyak orang yang pamer kesuksesan atau barang yang mereka miliki. Kamu pun merasa malu dan membandingkan dirimu dengan mereka yang kita anggap lebih sukses, lalu memutuskan untuk berusaha lebih keras.

Tapi giliran kamu sudah berusaha lebih keras dan mencapai ambisi-ambisimu, kamu masih merasa tidak puas. Malahan kita (kalau mau kamu, konsisten kamu aja ya) merasa lelah dan tidak semangat untuk melakukan apa-apa lagi. Bisa jadi, kamu terkena “Toxic Productivity.” Jika kamu merasakan tanda-tanda di bawah ini, sudah waktunya kamu mengubah pola pikirmu!

Beraktivitas hingga sakit

Mungkin kedengarannya seperti pahlawan jika kita berusaha sekeras mungkin. Bangun hingga subuh dan selalu mengatakan ‘ya!’ saat disuruh untuk berkontribusi. Tidak ada yang salah dengan memiliki banyak aktivitas, tapi ketahuilah bahwa tubuhmu punya batasnya sendiri. Staminamu ibarat baterai handphone yang harus diisi kembali saat sudah hampir habis. Bayangkan, jika kamu sampai jatuh sakit, kamu terpaksa harus menunda pekerjaan-pekerjaan yang harusnya kamu lakukan sekarang, dan itu malah akan semakin menambah beban pekerjaanmu dalam jangka panjang.

Tidak menyediakan waktu senggang untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat

Dukungan dari orang-orang yang kita percayai dapat menyegarkan pikiran kita di saat kita lelah dan merasa buntu. Dilansir dari Time.com, kehidupan sosial yang baik dapat menurunkan tingkat stres, memperbaiki mood, memotivasi kita untuk bertindak positif, dan meningkatkan kesehatan jantung. Sebaliknya, orang-orang yang mengisolasi diri cenderung memiliki risiko tinggi terkena penyakit kronis dan memiliki sistem imun yang kurang baik.

Dan bukan tidak mungkin, lewat berkomunikasi dengan mereka, kamu dapat menemukan perspektif baru atau ide-ide segar yang belum pernah kamu pikirkan sebelumnya!

Merasa bersalah saat istirahat

Setelah menyelesaikan tugas yang bertubi-tubi, akhirnya kamu mempunyai senggang. Rasanya kamu hanya ingin bersantai sejenak melepas penat. Tapi kemudian kamu merasa bersalah karena harusnya kamu memakai waktu senggangmu untuk melakukan kegiatan ‘produktif’ – membuat sesuatu, membereskan pekerjaan yang lain, dan sebagainya.

Padahal, istirahat yang cukup dapat membantu otak kita bekerja lebih baik. Daripada memarahi diri sendiri karena otak terasa buntu, lebih baik ambil waktu untuk bersantai sejenak. Setelah istirahat, otakmu akan kembali menghasilkan ide-ide kreatif lagi seperti sediakala. Beberapa cara bersantai yang dapat meningkatkan kreativitasmu di antaranya berjalan kaki, tidur siang, dan berhenti bekerja sebelum tumbang. Don’t work harder, work smarter!

Membuat target-target yang tidak realistis

Minggu ini, harus sudah bisa selesai 10 buku. Bulan depan, harus ikut kompetisi ini dan itu. Tahun ini, harus sudah bisa menguasai bahasa baru. Selalu ada goal-goal baru, sampai-sampai kita lupa sudah sejauh mana kita berjalan. Selalu haus untuk mengembangkan diri adalah mindset yang sangat bagus. Tapi ingat, semua butuh proses! Bersabarlah pada dirimu dan nikmati prosesnya.

Sebelum kamu terperangkap lebih jauh lagi, yuk ubah cara pandangmu! Evaluasi kembali hal-hal yang memang penting untuk dirimu. Apakah hal-hal yang kamu ingin raih sesuai dengan bakat dan tujuan hidupmu, ataukah kamu hanya ingin disukai orang lain? Apa hal-hal yang kamu paling hargai di hidupmu? Buatlah skala prioritas, dan buang jauh-jauh yang tidak penting. Sediakan waktu bagi dirimu untuk beristirahat sewajarnya, supaya fisik dan pikiran kembali siap untuk menghadapi tantangan-tantangan di depan.

Pada akhirnya, kamu akan berterima kasih pada dirimu sendiri.

Artikel ini ditulis oleh: Alyssa Chiara

Berita terbaru

Agenda

1 Okt Dies Natalis ke-63 Untar
3 Okt Research Week Untar
7 Okt Seminar Kebudayaan
7 Okt Pagelaran Wayang
15 Okt Wisuda ke-80 Untar