Pilih Laman
Seni untuk Hidup Berkualitas bagi Warga Senior

28 November 2020

Oleh: Humas UNTAR

Fakultas Psikologi Untar menyelenggarakan seminar daring dengan tajuk “Memanfaatkan Seni Untuk Menjaga Quality Life Warga Senior di Masa Pandemi Covid 19” (28/11) melalui aplikasi meeting daring. Acara ini menghadirkan narasumber Dr. Monty P. Satiadarma, MS/AT. MFCC. DCH, Psikolog dan Dra. Niniek L. Karim, Psikolog serta dihadiri Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktur Kesehatan Keluarga dr. Erna Mulati, MSc., CMFM, Senior Advicer Lansia Dompet Dhuafa dr. Astrina serta Perwakilan Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta Ruminto dan Agus Handaka.

Dekan Fakultas Psikologi Dr. Rostiana, MSi., Psikolog dalam sambutannya menyatakan bahwa acara ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan serta berlandaskan kepedulian kepada masyarakat khususnya warga senior atau lansia.

“Kami fokus kepada kelompok-kelompok khusus, nomor satu adalah kelompok warga senior. Ini adalah bentuk penghormatan kami terhadap warga Lansia. Betapa art atau seni itu luas sekali implementasinya, khususnya di masa pandemi ini,” katanya.

Rektor Untar Prof. Dr. Ir. Agustinus Purna Irawan juga menambahkan bahwa pentingnya seni di sepanjang kehidupan dalam rangka pengembangan diri.  “Dengan melakukan seni kita memanfaatkan potensi dan kesempatan yang Tuhan berikan ke pada kita, bukan saja di masa pandemi tapi di sepanjang kehidupan kita. Seni membuat kita bahagia. Mudah-mudahan kita bisa terus berkontribusi dan mensyukuri kehidupan serta mengembangkan diri menjadi manusia unggul yang berperan di kehidupan bernegara,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, Dr. Monty P. Satiadarma, MS/AT. MFCC. DCH, Psikolog menjelaskan bahwa aspek interaksi dan sosial sangat penting bagi lansia, khususnya dalam pengimplementasian seni dalam kehidupan sehari-harinya. Banyak mitos bahwa kemampuan fisik dan psikis lansia menurun tapi kenyataannya banyak lansia yang menunjukkan potensinya yang maksimal. Selain itu, terkait seni, banyak manfaat yang didapat jika digeluti oleh lansia.

“Di dalam art itu sendiri, memberikan peluang kepada individu untuk berinteraksi dengan orang lain, dengan minat pribadi (personal interest) dan engaging dengan dirinya sendiri. Interaksi dengan seni secara sosial membentuk sense of belonging dan sense cinta kasih (disayang dan menyayangi). Aktivitas dan manfaatnya misalnya mengaktifkan fungsi kognitif dengan mengisi teka-teki silang, sosialisasi di kelas dansa, selain itu bisa juga dengan berkebun dan scrapbooking (menempel dan memotong gambar, menyusun kisah dan sejarah hidup, kemampuan fotografi, merekam gambar dan momen). Dan tentunya mengikuti kelas seni seperti merajut, melukis atau bermain musik secara berkelompok. Banyak sekali pilihan yang bisa diikuti yang bisa membantu para lansia untuk mengembangkan minat dan bakat para lansia tersebut,” katanya menjelaskan.

Mendukung pemaparan tersebut, Dra. Niniek L. Karim, Psikolog menjelaskan bahwa karakter lansia dan kondisinya tergantung dari personality dan banyak lansia yang tangguh dan produktif serta bahagia. Dengan berkesenian lansia juga dapat mempertahankan kualitas hidupnya.

“Lansia adalah tahap akhir dari proses perkembangan daur hidup manusia. Dari banyaknya mitos tentang Lansia dan stigmanya, tergantung dari personality orangnya. Masih banyak lansia yang dibilang Lansia Tangguh yaitu lansia yang sehat, produktif, aktif, mandiri dan bahagia. Banyak sekali seniman yang berbahagia karena berusaha menyalurkan bakat dan minatnya sehingga keindahan itu bisa tertebar untuk diri sendiri dan lingkungannya. Berkesenian dapat mewujudkan karena seni itu menyentuh perasaan dan sikap hidup orang, khususnya terkait dengan bagaimana kita mempertahankan quality of life terutama di masa pandemi ini,” katanya menambahkan. -SW-

-JS-

28 November 2020, PKM, KS.

Berita terbaru

Agenda

1 Okt Dies Natalis ke-63 Untar
3 Okt Research Week Untar
7 Okt Seminar Kebudayaan
7 Okt Pagelaran Wayang
15 Okt Wisuda ke-80 Untar