Pilih Laman
Seminar Penempatan Produk: Pemahaman dan Peluang Penerapannya

14 November 2020

Oleh: Humas UNTAR

Program Studi Magister Manajemen Untar menggelar seminar darin bertajuk Penempatan produk: Peluang Penerapan di Indonesia. Dengan menghadirkan pembicara Dr. Cokki, S.E., MM., dan dimoderatori oleh Dr. Hetty Karunia Tunjungsari, S.E., M.Si., Sabtu (14/11) melalui aplikasi meeting daring.

Selama kurang lebih dua jam, Dr. Cokki memaparkan secara komprehensif dari sejarah tentang praktik penempatan produk hingga implementasinya saat ini, khususnya di Indonesia.

Penelitian tentang ini meningkat saat 2004 dan hal ini sudah umum di industri pada aumumnya saat ini. Penempatan produk adalah iklan yang boleh dikatakan dengan bahasa literatur adalah hidden advertising. Di media luar (AS atau eropa) hal ini sangat sering digunakan. Dalam film banyak ada merek-merek yang sengaja disisipkan dalam film-film. Kemunculan produknya sangat mudah ditemui meskipun hanya beberapa detik. Meskipun demikian, penempatan produk di film anak-anak dinilai tidak etis. Selain di film, penempatan produk juga ditemukan di program televisi seperti acara ajang pencarian bakat dan di dalam mobile game.

“Secara definisi, penempatan produk adalah pesan berbayar yang ditujukan untuk memengaruhi audiens film (atau televisi) dengan cara memasukkan produk bermerek dengan terencana dan tidak mengganggu ke dalam film (atau program televisi). Pada saat itu media massa yang paling propuler di Amerika adalah televisi dan film. Meskipun sekarang penempatan produk bisa dimasukkan ke dalam game dan bentuk-bentuk media lain,” katanya menjelaskan.

Sponsor baik dari perusahaan atau pemerintah dalam suatu siaran tv atau film biasanya ada tujuannya, yakni komersialisasi. Penempatan produk atau kemunculan merek pada awalnya untuk menambah realisme dari suatu yang diceritakan kemudian berkembang dengan motivasi untuk mencari dana.

Di Indonesia sendiri penempatan produk bisa ditemukan, misalnya di film Habibie & Ainun meskipun terlalu mencolok dan menjadi tidak efektif, namun penempatan produk jelas ditampakkan. Selain itu terdapat pula penempatan produk merek-merek tertentu di dalam lagu, webseries, hingga acara televisi.

“Di dunia pariwisata, ide penempatan destinasi menjadi salah satu pilihan dalam meningkatkan usaha pariwisata. Contohnya adalah penempatan destinasi seperti lokasi film Harry Potter dan Lord of The Rings. Ini meningkatkan orang untuk mengunjungi lokasi pengambilan gambar film tersebut. Sedangkan peluang penempatan destinasi Indonesia sangat potensial. Buktinya adalah pada penempatan destinasi dalam film Laskar Pelangi (tahun 2008), AADC 1 dan 2 (tahun 2016),” terangnya.

Sebagai penutup paparan, Dr. Cokki menjelaskan bahwa butuh ada kerja sama dari sponsor baik manufaktur/ jasa, atau pemerintah, media massa, dan agensi untuk memerhatikan konteks  baik dari itensi komersial serta mementingkan integritas artistik. Sebaiknya penempatan produk terbatas tidak mencolok tapi bisa dengan frekuensi kemunculan tertentu tanpa menimbulkan iritasi penonton. -SW-

-JS-

14 November 2020, PKM, KS.

Berita terbaru

Agenda

1 Okt Dies Natalis ke-63 Untar
3 Okt Research Week Untar
7 Okt Seminar Kebudayaan
7 Okt Pagelaran Wayang
15 Okt Wisuda ke-80 Untar