Pilih Laman
Menilik Pariwisata Indonesia Pasca Pandemi

15 Juli 2020

Oleh: Humas UNTAR

FIABCI Indonesia berkolaborasi dengan Program Studi (Prodi) Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara (FT Untar) menyelenggarakan “The New Normal in the World Post-Covid-19: Post-Pandemic Tourism and Hospitality” yang dilakukan secara online, Rabu (15/7).

Seminar online disiarkan secara langsung melalui aplikasi Zoom dan Youtube ini menghadirkan narasumber kunci Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Fadjar Hutomo, Wakil Ketua Umum Bidang Pariwisata Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kosmian Pudjiadi, Director of Sales and Marketing Anantara Hotel Bali Theresia Siregar, Country Head OYO Indonesia Eko Bramantyo, dan Ketua Umum Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Dr. N. Rusmiati, M.Si.  Dimoderatori Managing Director GEN Indonesia Ivan A. Sandjaja.

Kosmian Pudjiadi menjelaskan mengenai proyeksi Kadin terkait dampak pandemi dan New Normal terhadap pariwisata di Indonesia. “Industri pariwisata adalah salah satu industri yang paling terpukul akibat pandemi Covid-19 yang mewabah hampir di seluruh dunia. Proyeksi berbagai pihak dengan melihat perkembangan cara penanganan yang kurang efektif, diprediksi pandemi baru akan berakhir di akhir tahun 2020. Industri pariwisata sendiri baru akan fully recovered pada 2023, kira-kira satu setengah tahun setelah ditemukan vaksin, berdasarkan data World Tourism Organisation,” paparnya.

“Organisasi kepariwisataan harus dijadikan ujung tombak dalam percepatan pemulihan pariwisata. Dalam pandemi ini, pemulihan pariwisata tidak bisa diselesaikan dengan cara birokrasi, akademik, apalagi politis, tetapi harus melalui cara industri,” sambung Kosmian.

Mewakili Fadjar Hutomo, Direktur Manajemen Industri Kemenparekraf Henky Hotma memaparkan perilaku wisatawan Indonesia di masa pandemi. “Wisatawan di seluruh dunia merasa lebih was-was untuk melakukan perjalanan setelah pandemi Covid-19. Walau demikian, wisatawan di Indonesia lebih optimis dan masih berencana untuk berwisata. Informasi yang baik dan valid, terutama dari Pemerintah, dapat menjadi alasan yang menenangkan dalam membuat keputusan,” jelasnya.

“Kami berharap ada 150 juta pergerakan wisatawan Nusantara di semester kedua 2020 ini, dengan segala adaptasi kenormalan baru serta protokol kesehatan oleh masyarakat maupun pelaku usaha,” sambung Henky.

Menurut Dr. Rusmiati, pariwisata, terutama dalam negeri masih memiliki peluang maju pasca pandemi. “Mesksipun saat ini pariwisata sedang menurun, kami di Asita selalu mendorong promosi dan optimis pariwisata dapat keluar menjadi pemenang setelah pandemi berakhir,” pungkasnya.

“Kita harus selalu optimis, terima kasih Pemerintah telah sangat berkomitmen dan mempromosikan wisata di indonesia. Dengan adanya kerjasama dan promosi, pariwisata akan berhasil,” lanjut Dr. Rusmiati.

Theresia Siregar menuturkan strategi marketing yang dilakukan Anantara Hotel untuk tetap bertahan. “Semua industri hospitality terkena imbas pandemi. Syukurlah, Anantara Seminyak merupakan salah satu hotel yang masih dapat bertahan dan buka di Bali. Program ‘Pay Now Stay Later’ yang kami lakukan, sangat membantu keberlangsungan Anantara untuk tetap berjuang melewati pandemi,” ungkapnya.

Eko Bramantyo mengungkapkan strategi yang dilakukan OYO Indonesia dalam menyikapi pandemi.  “Performa OYO di bulan April di bawah 20%, tetapi mulai meningkat di bulan-bulan berikutnya. Peningkatan tersebut merupakan hasil dari beberapa inisiatif, antara lain melakukan marketing melalui OTA (Online Travel Agent) dan melaksanakan program ‘Sanitised Stays’ untuk menyesuaikan permintaan konsumen yang menginginkan properti aman dan nyaman,” tuturnya.

Hadir sebagai pembicara tamu, Duta Besar Indonesia untuk Serbia H.E. Mr. M. Chandra Widya Yudha memberikan pandangan terkait promosi pariwisata Indonesia di negara lain, khususnya Serbia. “Untuk menarik turis dari Serbia, kita harus berpikir untuk melakukan sinergi dengan para operator tur dari Indonesia untuk mengenalkan Indonesia di Serbia, karena akan ada multiplier effect yang muncul dari kegiatan ini,” imbuhnya.

Acara ini merupakan seri ke-lima dalam rangkaian seminar online The New Normal in the World Post-Covid-19. Dukungan dari Kadin Indonesia, REI, Century 21 Indonesia, GEN Indonesia, dan majalah Property & Bank, menunjukkan bahwa Untar selalu mengedepankan kolaborasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. -AW-

-JS-

15 Juli 2020, KS.

Berita terbaru

Agenda

17 Nov KBGI XIII
17 Nov Seminar Humaniora
24 Nov ICEBM