Pilih Laman
Mengembangkan Bisnis Properti untuk Lanjut Usia di Indonesia

17 Juni 2020

Oleh: Humas UNTAR

FIABCI Indonesia berkolaborasi dengan Program Studi (Prodi) Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara (Untar) menyelenggarakan “The New Normal in the World Post-Covid-19: Are The Indonesian Real Estates Ready for Senior Living Business?” yang dilakukan secara online, Rabu (17/6). Webinar yang disiarkan secara langsung melalui aplikasi Zoom dan Youtube ini menghadirkan narasumber kunci Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Maliki Achmad, Ph.D., General Manager Ageing Asia Alliance Sylwin Angdrew, dan Founder/Owner RUKUN Senior Living Herman Kwik. Vice President FIABCI Indonesia/Vice Chairman of Senior Living Sector Real Estate Indonesia (REI) Meiko Handoyo, dalam webinar ini mengatakan bahwa para peserta dapat mendengarkan pemaparan senior living secara umum dan pengembangan properti untuk membantu aktivitas masa tua yang lebih sehat, independen, dan bermartabat. Sebagai moderator Ketua Prodi (Kaprodi) S1 PWK Untar Ibu Regina Suryadjaja, S.T., M.T. mengatur jalannya acara.

Memaparkan Strategi Nasional Kelanjutusiaan, Maliki Achmad menjelaskan tentang pandangan pemerintah sebagai pembuat kebijakan mengenai profil dan gambaran umum kehidupan lansia di Indonesia. “Laju pertumbuhan penduduk lanjut usia dalam waktu dekat akan semakin memengaruhi struktur perekonomian Indonesia. Penduduk lanjut usia perlu diberikan kesempatan lebih luas untuk tetap produktif,” ucapnya. “Kementerian PPN/Bappenas bersama lembaga Pemerintah dan non-Pemerintah siap memberikan pelayanan untuk penduduk lanjut usia yang terjangkau dan berkualitas, sehingga dapat mendukung kehidupan lanjut usia yang mandiri, sejahtera, dan bermartabat,” sambung Maliki.

Sylwin Angdrew memberikan pandangan tentang ageing market sebagai suatu model bisnis yang dapat dikembangkan di Asia dengan memerhatikan budaya yang berlaku. Menurutnya, budaya saat ini telah berbeda dengan budaya yang terdahulu, sehingga membutuhkan penyesuaian. “Orang tua generasi sebelumnya berharap untuk diurus hingga tua, tetapi generasi baby boomer (1946-1964) telah menjadi generasi yang mengharapkan masa tua yang sehat, independen, dan bermartabat,” jelasnya. “Hal tersebut membuka kesempatan bisnis ageing market yang sangat besar. Indonesia sendiri diproyeksikan memiliki pasar sebesar 59 miliar dolar AS,” lanjut Sylwin.

Sebagai pemilik penyedia jasa dan hunian terintegrasi yang fokus pada senior living, Herman Kwik menjelaskan bahwa bisnis senior living harus tetap menjaga dampak sosial positif bagi masyarakat, seperti halnya RUKUN Senior Living. “RUKUN menyajikan solusi yang terintegrasi untuk menunjang kualitas hidup warga senior dalam menikmati kehidupan yang aktif, mandiri, dan produktif,” pungkasnya. “Menghadapi New Normal, RUKUN menerapkan protokol penerimaan tamu dan warga baru secara ketat dan sesuai standar kesehatan untuk menjamin kesehatan warga senior yang tinggal di fasilitas RUKUN,” sambung Herman.

Acara ini merupakan seri ke-empat dalam rangkaian webinar The New Normal in the World Post-Covid-19. Webinar ini diadakan dengan dukungan dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, REI, Century 21 Indonesia, GEN Indonesia, majalah Property & Bank, dan Asosiasi Senior Living Indonesia. -AW-

-JS-

17 Juni 2020, KS.

Berita terbaru

Agenda

1 Okt Dies Natalis ke-63 Untar
3 Okt Research Week Untar
7 Okt Seminar Kebudayaan
7 Okt Pagelaran Wayang
15 Okt Wisuda ke-80 Untar