Pilih Laman
Evolusi Konsep “Self” dalam Filsafat (dari Individu ke Sosial) oleh Urbanus Ura Weruin

16 Agustus 2017

Oleh: Admin Pusat

Diri atau self sebagai salah satu tema sentral metapsikologi telah lama menjadi objek kajian menarik dalam bidang filsafat. Sejak zaman Yunani kuno sampai era postmodern, konsep tentang diri berubah bersamaan dengan oritentasi filsafat.

Tiga filsuf besar Yunani kuno: Socrates, Plato, dan Aristoteles, meskipun dalam banyak hal berbeda, self atau diri dipandang sebagai pusat diri (Socrates), sebagai sesuatu yang ‘kekal’ (idea dalam pandangan Plato), atau sebagai potensi ‘rohani’ (Aristoteles). Semboyan Socrates ‘kenalilah dirimu sendiri’ ingin menegaskan agar orang selalu kembali ke dasar, ke arkhe, ke pusat, ke prinsip-prinsip etis dan kosmik.

Dalam abad Pertengahan, manusia tidak lagi menjadi pusat bagi dirinya sendiri melainkan Yang Ilahi. Manusia itu sendiri dan segala aktivitas dan pengalaman hidupnya diyakini berlangsung dalam ‘penyelenggaraan Ilahi’. Dengan demikian diri sebagai pusat manusia dan dunia dipindahkan dari manusia dan dunia ke Yang Ilahi. Self atau diri manusia hanyalah pion-pion catur yang ‘damainkan’ oleh Yang Ilahi dalam dunia (papan catur).

Para filsuf modernis mengembalikan diri sebagai pusat manusia individual dari Yang Ilahi ke manusia itu sendiri. Contoh paling jelas tampak pada diri Cartesian (Cartesian self). Penyelidikan kemudian diarahkan pada kemampuan-kemampuan hakiki dalam diri manusia sehingga manusia mampu menyadari, mengetahui, bertindak, dan percaya pada sesuatu berdasarkan standard-standar pengetahuan dan kebenaran yang rasional, objektif, dan ilmiah. Bapak filsuf modern semacam Rene Descartes, misalnya, memahami substansi diri manusia sebagai subjek yang berpikir melalui semboyannya “Cogito ergo Sum”. Diri yang berpikir menjadi pusat pengetahuan. Descartes mengatakan bahwa tolok ukur bagi kebenaran tidak dicari di luar diri manusia melainkan dalam diri manusia itu sendiri melalui kriteria berpikir secara ‘jelas dan terpilah-pilah’ (clearly and distincly). Kaum idealis seperti Hegel, dan Immanuel Kant menyuarakan pemikiran serupa. Bagi Hegel, ‘yang rasional itulah yang real dan yang real itulah yang rasional’. Sementara Kant menegaskan hakikat etis seorang individu ada pada kehendak baik individu untuk melakukan apa yang disadari sebagai kewajiban moral seseorang dan bukan segala macam aturan yang dipasang dari luar individu. Dengan demikian dalam pemikiran modern, self atau diri merupakan pusat diri individual dan dunia.

Dalam era postmodern sekarang ini diri tak lagi dipahami sebagai pusat individual melainkan tersebar dalam jalinan, relasi, interaksi sosial, dan bahkan dibentuk oleh sejarah, kebudayaan, dan pengalaman sosial. Diri bukanlah pusat individual yang bebas dan otonom melainkan ‘ditentukan’ oleh narasi, ‘empaty’, intersubjektivitas, dan ‘yang lain’ (‘the others’). Dalam bahasa pemikir postmodernis, diri postmodern itu berserakan (dispersal) dan terpinggirkan. Self-consciousness sebetulnya tidak lain dari self-other consciousness. Berlangsung pembalikan dari “aku” dan “anda” menjadi “kita”.***

(V/NW)

Berita terbaru

Agenda

1 Okt Dies Natalis ke-63 Untar
3 Okt Research Week Untar
7 Okt Seminar Kebudayaan
7 Okt Pagelaran Wayang
15 Okt Wisuda ke-80 Untar