Pilih Laman
Münchausen Syndrome oleh Monty P. Satiadarma

24 Juli 2017

Oleh: Admin Pusat

Münchausen syndrome merupakan gangguan psikologis factitious disorder yang pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Richard Asher (pakar endokrin dan hematolog) dalam jurnal kedokteran The Lancet tahun 1951. Nama Münchausen digunakan oleh Dr. Asher berdasarkan buku Baron von Münchausen yang dipublikasikan secara anonim oleh Rudolph Erich Raspe tahun 1785. Raspe menuliskan ragam kisah fiksi Freiherr von Münchausen (Hyeronimus Karl Friederich), yang gemar bercerita ketika mengundang teman-temannya untuk makan bersama dan kisah-kisah yang diungkapkan dari pengalamannya dalam perang Russia- Turki umumnya bersifat fantasi, dan penuh dengan ketidakmungkinan. Cerita-cerita seperti itu mungkin kini sudah menjadi hal yang lumrah dalam tayangan sejumlah film. Asher teringat akan buku tersebut ketika ia harus menjelaskan kondisi pasien penyandang factitious disorder karena para pasien tersebut cenderung melebih-lebihkan (mendramatisasi) gangguan yang mereka alami guna memperoleh perhatian medis yang lebih besar, memperoleh simpati dari banyak orang, bahkan kerap mereka mengharapkan memperoleh pelayanan rumah sakit. Banyak di antara pasien yang amat memahami jenis gangguan penyakit yang mereka keluhkan, sebagian di antara mereka meminta memperoleh pembedahan, dan secara umum mereka gemar berperan sebagai pasien. Bentuk lain dari Münchausen syndrome adalah Münchausen syndrome by Proxy (MSbP/MSP/MbP). By proxy artinya substitusi atau pengganti. Jika seorang individu melakukan tindakan “by proxy”, artinya ada orang lain yang melakukan tindakan tersebut bagi dirinya. MSbP atau MbP adalah gangguan yang biasanya dilakukan oleh pengasuh atas diri yang diasuh dengan jalan mencederai atau melukai. Tujuan pengasuh melakukan hal tersebut adalah guna memperoleh simpati publik bahwa dirinya merupakan “pahlawan” yang berupaya menyelamatkan, dan kerap juga memperoleh pujian publik hingga beroleh keuntungan finansial dari pihak asuransi atau dukungan lingkungan. Banyak kasus serupa ini terjadi dalam lingkungan pediatri dan kondisi ini kerap juga disepakati merupakan bentuk medical abuse. Kasus Beverly Allitt (perawat Inggris, 1991) merupakan salah satu kasus MSbP yang amat dikenal publik. Beverly memiliki ragam akses treatment selaku perawat rumah sakit. Namun ia kemudian dinyatakan bersalah atas pembunuhan 4 orang anak melalui penggunaan induksi kimiawi yang menimbulkan gangguan pernapasan yang menimbulkan kematian. Allitt harus menjalani masa tahanan 30 tahun hingga tahun 2022. Perkembangan internet dan ragam bentuk media sosial lain mempengaruhi pula perkembangan pola individu dalam mengelabui masyarakat guna memperoleh perhatian, simpati, bantuan keuangan dan secara umum keuntungan pribadi. Münchausen syndrome by internet merupakan perilaku pengguna internet untuk memperoleh perhatian dan simpati publik melalui keluhan sakit melalui situs internet dengan mengemukakan penderitaan secara dramatis hingga melukiskan perannya sebagai korban kekerasan. Dr. Marc Feldman (University of Alabama) menjelaskan hal ini ketika ia menemukan kasus seorang ibu yang mengeluhkan penderitaan anaknya, padahal keluhan tersebut merupakan kebohongan belaka. Kasus Dana Dirr merupakan salah satu kasus Münchausen sydrome by internet yang cukup dikenal. Emily Dirr, seorang mahasiswa kedokteran Ohio meramu kisah tragis Dana Dirr seorang ahli bedah yang mengalami kecelakaan ditabrak mobil dalam kondisi mengandung 35 minggu sehingga ia dan janinnya meninggal. JS, suami Dana kemudian juga melukiskan rasa kehilangannya, yang tak lama kemudian disertai meninggalnya putra mereka Eli yang menderita leukemia. Masyarakat amat bersimpati dengan kasus ini, sebagian sempat memberi sumbangan finansial melalui akun yang tersedia; namun belakangan ditemukan bahwa semua kisah tersebut kebohongan belaka. Tidak ada individu Dana Dirr, tidak ada pula JS dan Eli. Semua adalah rekayasa Emily Dirr. Akhir-akhir ini dalam jurnal Annals of The Royal College of Surgeons of England, v 91 (2), tertanggal Maret 2009, Griffiths, Kampa, Pearce, Sakellariou, dan Solan, melaporkan kasus yang mereka sebut Münchausen syndrome by Google. Seorang pasien perempuan berusia 40 tahun pernah mengalami cedera pergelangan kaki tahun 2005 dan memperoleh perawatan medis dan pembalutan gips selama 3 bulan. Beberapa minggu berikutnya setelah pembalut gips dilepas, ia kembali mengalami cedera serupa ketika mengikuti gerak jalan di Australia dan memperoleh bantuan medis serta balutan gips selama 2 minggu. Selama dua tahun berikutnya ia kerap mengeluh sakit dan meminta layanan medis, di samping ia cenderung menggunakan kruk (penopang). Ia memperoleh MRI (medical resonance imaging), arthroscopy, tetapi tidak didapati abnormalitas. Di tahun 2007 ketika meminta layanan medis, ia melengkapi dokumennya dengan foto X-ray pergelangan kaki yang menurutnya diperoleh dari rumah sakit di Australia tempat ia memperoleh perawatan di tahanu 2005. Pengujian data rumah sakit menimbukan kecurigaan atas foto X-ray dan para staff rumah sakit kemudian menemukan kesamaan gambar X-ray yang ia serahkan dengan gambar pada Google. Ia selanjutnya tidak memperoleh perlakuan medis lebih lanjut. Jika pada umumnya Münchausen syndrome didorong oleh keinginan memperoleh perhatian, merupakan bentuk hoax, rangkaian fabrikasi keluhan sakit guna beroleh perhatian dan simpati, MSbP merupakan bentuk yang mematikan karena pengasuh melakukan tindakan abuse terhadap yang diasuh. Masyarakat, khususnya para pakar kesehatan, perlu mewaspadai jenis gangguan ini guna menghindari penyesatan yang bertujuan terutama guna memenuhi keuntungan pribadi semata. Pada umumnya penyandang gangguan ini mengalami trauma perlakuan abuse di masa lampau yang dilakukan oleh tokoh otoritas di lingkungan hidup mereka. Oleh karenanya mereka mengalami kemelut psikologis untuk menjalankan peran sebagai penderita sakit dan melakukan tindakan yang menghasilkan peran sakit pada diri orang lain. Sejumlah kasus membutuhkan penanganan tindakan medis khususnya psikiatris, sebagian lain membutuhkan bantuan seperti terapi keluarga (family therapy). Penelitian lebih lanjut masih terus perlu dilakukan. Perkembangan media sosial yang sedianya memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat juga berpeluang disalah gunakan untuk memunculkan berbagai gangguan perilaku. Kewaspadaan tenaga professional merupakan hal penting yang harus ditanamkan dalam bidang pendidikan. (NW)