Pilih Laman
Konten Medsos Inspiratif, Presiden Undang Helen ke Istana

6 Juli 2017

Oleh: Humas UNTAR

Mahasiswa Fikom Untar Helen Oktavia bersama Presiden Joko Widodo   Mahasiswa Untar Helen Oktavia mendapat undangan bertemu Presiden Joko Widodo, Kamis (22/6) di Istana Negara Jakarta. Mahasiswi fikom ini dinilai sebagai Anak Muda dengan Konten Media Sosial Inspiratif. Penilaian ini menghantarkannya bertemu Presiden Joko Widodo bersama para penggiat media sosial yang terpilih lainnya. Helen yang pernah aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa Fikom dan Oranye (pers mahasiswa Fikom) ini sering menulis di media sosial terkait kondisi bangsa. Cara ini menurutnya adalah untuk mengawal dan memberi masukan kepada pemerintah. �Awalnya saya sempat ragu, namun setelah saya konfirmasi ke staf Presiden dan dijelaskan bahwa saya dinilai sebagai netizen yang aktif dan kritis. Sehingga, Presiden Jokowi ingin mengundang saya untuk berdiskusi. barulah saya percaya�, ujar Helen yang mengaku telah aktif menulis dan mengamati kinerja serta kebijakan pemerintah sejak 2012. Saat pertemuan tersebut Presiden meminta para penggiat media sosial untuk membantu menyebarkan nilai optimisme dan toleransi kepada khalayak, khususnya para generasi muda. Seraya mengingatkan juga agar generasi muda terus mengasah kreativitas dan menghindari untuk menulis atau menyebarkan sesuatu yang mengarah pada perpecahan dan kebencian di media sosial. Mahasiswa Fikom yang pernah magang di DPR RI ini menilai Joko Widodo sebagai pribadi yang ramah. Helen menceritakan suasana saat Presiden memasuki ruangan lalu berkeliling menyalami para undangan satu per satu dengan penuh keramahan. �Saya spontan langsung mengucapkan Selamat ulang tahun kepada Pak Jokowi. Beliau pun tersenyum seraya mengucapkan terima kasih�, kenangnya. Undangan ini juga memberi kenangan manis, karena dinilai memberi usul yang bagus maka Presiden menghadiahkannya sebuah sepeda untuk dibawa pulang. Perempuan pemilik akun facebook Helen Oktavia Theresia ini mengaku suasana di Fikom mendorongnya memiliki pikiran terbuka dan kepedulian terhadap masyarakat. Melalui diskusi dengan dosen, rekan dan senior mengenai berbagai isu dan topik yang ada di masyarakat telah membuka wawasannya yang kemudian dituangkannya dalam tulisan. �Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian�, Helen mengutip� sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Menurutnya mahasiswa ilmu komunikasi harus dekat dengan masyarakat dan bisa memberi kontribusi positif untuk bangsa ini.