Pilih Laman
Hafal dan Nalar

20 Agustus 2016

Oleh: Admin Pusat

HAFAL DAN NALAR   Oleh: Prof. Dr. Dali Santun Naga Staf Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara   Sering kita mendengar orang berkata bahwa belajar itu jangan dilakukan melalui menghafal. Belajar itu harus melalui pemahaman. Dan pada saat kita bertanya tentang apa yang dimaksud dengan pemahaman maka banyak jawaban yang mengatakan bahwa pemahaman itu supaya dilakukan melalui pemikiran. Tetapi ketika kita mengejar lebih lanjut dengan menanyakan bagaimana pemikiran itu dilakukan maka kita pun sering sampai ke suatu lingkaran. Di samping kata sistematik, kritis, kreatif, rasional, dan sejenisnya maka ada yang berkata bahwa pemikiran juga harus dilakukan secara nalar dan logika. Bahkan dua kata inilah yang tampaknya menjadi inti dari semua cara berpikir itu. Sistematik, kritis, kreatif, dan rasional itu harus berdasarkan nalar dan logika. Mereka bertumpu pada kata nalar dan logika. Tetapi pada saat kita ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan nalar dan logika maka kita pun mulai didorong masuk ke dalam suatu lingkaran. Di dalam arti logika terdapat kata nalar, namun di dalam ungkapan arti kata nalar muncul kata logika. Kalau demikian halnya, lantas apa sebenarnya yang dimaksud dengan logika dan nalar itu? Bagaimana pula kaitan belajar dengan mereka? Dan apa pula peranan hafal di dalam belajar semacam itu? Karena itu kita mencoba untuk mencari arti kata nalar dan logika yang tidak bersifat tautologi atau lingkaran. Secara ringkas ada kamus yang menyatakan bahwa logika adalah pengetahuan tentang nalar yang  benar. Dan nalar adalah kemampuan untuk memahami, menyimpulkan, atau berpikir, khususnya, melalui cara yang teratur, masuk akal, dan rasional. Sedangkan rasional adalah cara perolehan pengetahuan melalui penurunan dari konsep a priori (yang terlebih dahulu diketahui) atau ide yang diperlukan. Namun bagaimana pula kita dapat mencapai nalar dan logika seperti ini? Nathan A. Court pernah menulis buku. Judulnya adalah Mathematics: In Fun and In Earnest. Di situ ia sangat berkepentingan dengan kata nalar dan logika sehingga 28 halaman dari 192 halaman buku disediakan untuk berbicara tentang dua hal itu. Secara cukup mantap, Court mengaitkan nalar dengan segi psikologi di dalam berpikir. Dan kemudian bertolak dari konsep ahli filsafat Eugenio Rignano tentang nalar (dalam buku yang berjudul La Psicolagia del Ragionamento), Court menunjukkan bagaimana nalar terjadi di dalam pemahaman manusia. Bersama itu penalaran memerlukan sejumlah syarat agar penalaran dapat terjadi di dalam diri seseorang. Menurut Rignano, bernalar adalah melakukan pekerjaan eksperimen secara mental dengan hasil setiap langkah di dalam rantai eksperimen itu telah diketahui oleh penalar melalui pengalaman sebelumnya. Berpegang kepada pengertian itu tampaklah bahwa persyaratan nalar akan berkisar pada dua hal utama. Penalar sudah harus memiliki bahan berupa pengalaman sebelumnya atau informasi yang dapat dipakai untuk melakukan eksperimen. Dan kedua adalah penalar harus memiliki metode eksperimen itu. Hal ini diperlukan oleh pelajar untuk mempelajari pelajaran mereka secara nalar dan logika. Dan untuk itu mereka memerlukan semua persyaratan untuk mencapai nalar dan logika itu. Sampai di sini muncul pertanyaan lagi. Dapatkah pelajar melakukan percobaan atau eksperimen di dalam pikiran kalau mereka belum memiliki bahan atau informasi yang diperlukan oleh eksperimen itu? Rasanya tidak. Sebelum nalar atau eksperimen di dalam pikiran ini dapat mereka lakukan, pelajar itu perlu memiliki sejumlah informasi yang mereka ingat. Pada usia muda, anak belum memiliki cukup informasi yang diperlukan untuk bernalar dalam suatu cabang pengetahuan di sekolah. Namun pada saat itu, banyak guru mengharapkan anak dapat bernalar. Apa yang terjadi? Sekalipun dilarang, anak akan tetap berusaha untuk memperoleh serta mengingat informasi itu melalui hafal. Setelah cukup banyak informasi yang mereka ingat melalui hafalan, barulah mereka dapat diajak bernalar. Kini kita berhadapan dengan peranan guru. Bagaimana guru dapat membangkitkan nalar di kalangan pelajar mereka? Guru yang mampu tentunya akan memberikan dulu sedikit informasi serta disusul dengan nalar kecil. Melalui nalar kecil ini, informasi akan teringat. Kemudian informasi ditambah dan nalar pun ditambah. Bagi anak kecil, cara ini harus berlangsung sangat gradual. Dan untuk mendukung hal ini, isi kurikulum untuk anak kecil juga harus berlangsung maju secara sangat gradual. Itupun masih dirasa kurang cukup. Informasi dan nalar kecil itu harus dimantapkan. Ini berarti bahwa informasi dan nalar kecil itu harus diulang-ulang melalui latihan yang cukup banyak. Tumpukan informasi yang teringat dengan baik dan terinci inilah yang menjadi model anak untuk memasuki pelajaran lebih tinggi dan nalar yang lebih besar. Sekali kemantapan pengetahuan diperoleh anak maka pada pendidikan yang lebih tinggi, informasi dan nalar dapat dipertinggi, informasi dan nalar dapat ditingkatkan. Dan pada saat itu isi kurikulum dapat kita tambah. Dan penambahan ini akan dapatg dijangkau oleh pelajar berkat fondasi mereka yang sudah kokoh. Dapatkah hafal dihapus sama sekali? Rasanya tidak. Usaha untuk mengingat informasi yang diperlukan oleh eksperimen di dalam pikiran sering dilakukan oleh pelajar melalui hafal. Yang dapat kita lakukan adalah menekan jumlah hafalan ke taraf minimal. Betapapun juga, tidak ada salahnya, kita menghafal sekadarnya melalui mnemonik yang diciptakan sendiri atau melalui lagu.   Telah diterbitkan pada majalah Parameter Nomor 46, Oktober 1985.   (ST-Enes) Sumber gambar: koleksi pribadi admin