Pilih Laman
PSIKOLOGI POSITIF: BERSYUKUR DALAM SEGALA HAL

2 Agustus 2016

Oleh: Admin Pusat

PSIKOLOGI POSITIF: BERSYUKUR DALAM SEGALA HAL   Agoes Dariyo, MSi, Psikolog Pakar Psikologi Pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta   Mengucap syukur atas segala hal bisa dikatakan mudah untuk dilakukan oleh setiap orang.Namun dalam keadaan tertentu, seseorang merasa sulit mengucap syukur.Bersyukur dapat dilakukan ketika seseorang dalam keadaan suasana hati yang baik (good mood), apalagi ketika seseorang sedang memperoleh keberhasilan, rezeki materi atau berkelimpahan uang.Suasana hati yang riang gembira tersebut, membuat seseorang bisa mengucap syukur. Ucapan dan kata-kata positif, pujian, kata-kata manis bisa keluar dari mulut seseorang.  Bahkan  bisa juga seseorang tertawa riang. Bernyanyi-nyanyi sebagai tanda bahagia.Hal ini sangat mudah dilakukan oleh siapa pun yang bersyukur dalam kondisi hati yang menyenangkan (goodmood) (Schwart & Clore, 1983, dalam Sirgy, 2012). Namun demikian, mengucap syukur sangat sulit, bahkan tidak bisa dilakukan ketika seseorang dalam suasana hati yang buruk (bad mood), apalagi ketika seseorang sedang kecewa, dikecewakan, disakiti, dikhianati atau ketika dalam kegagalan. Suasana hati yang buruk demikian,  membuat seseorang merasa tidak bahagia, akibatnya ia sulit untuk mengucap syukur (Bower, 1981 dalam Sirgy, 2012). Bahkan seringkali seseorang justru memanfaatkan suasana hati yang buruk tersebut untuk mengeluh, mengomel, menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan atau bahkan menyalahkan diri-sendiri.Hal ini banyak dilakukan oleh orang.Namun demikian, bersyukur dalam situasi yang sulit tetap bisa dilakukan oleh sebagian kecil orang.Bagaimana mungkin hal itu bisa dilakukan, padahal suasana hati sedang buruk (bad mood). Psikologi positif berminat untuk mengembangkan kajian dan penelitian terkait dengan ungkapan rasa syukur yang dilakukan oleh seseorang.Keadaan good mood memang membuat seseorang merasa bahagia, sehingga mudah baginya untuk bersyukur (Bower, 1981 dalam Sirgy, 2012). Namun apakah ia bisa konsisten bersyukur dalam suasana hati yang buruk (badmood)? Masih tanda tanya besar. Diyakini orang-orang yang bisa bersyukur meskipun seseorang berada dalam suasana hati yang buruk, ditandai dengan ketangguhan, ketahanan dan kematangan emosi (emotion maturity) (Walgito, 2007).  Rasa bersyukur  mendorong seseorang untuk mengembangkan ketahanan (resiliensi) dan ketekunan (endurance), bahkan mengembangkan pula kesabaran (patient) (Snyder and Lopez, 2005).   Bersyukur dan Mental Sehat Rasa bersukur sejatinya sebagai ungkapan mental seseorang yang sehat (Keyes, 2009).Ia menunjukkan kualitas pribadi yang tangguh. Bukan karena ia sedang dalam keadaan good mood (suasana hati yang baik), namun justru ketika ia sedang dalam suasana hati yang buruk (bad mood) (Eid and Larsen, 2008). Ia tidak mudah mengeluh, mengomel, atau menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan atau menyalahkan diri-sendiri. Ia justru bisa menerima segala situasi dengan lapang dada.Ia mampu bersikap sabar dan tekun dalam menghadapi situasi yang terburuk sekali pun. Ia memiliki suatu keyakinan diri (self-efficacy) bahwa ia mampu menghadapi situasi sulit dengan sebaik-baiknya.  Ia tetap menjalankan aktivitas sehari-hari dengan tenang dan merasa optimis bahwa situasi yang buruk akan berlalu, serta ia akan mendapatkan kekuatan untuk menghadapinya dengan sebaik-baiknya (Masten and Reed, 2005). Misalnya: ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil dalam lingkungan sosial, meskipun ia melakukan hal-hal yang benar.  Bisa saja, ia menyalahkan orang lain yang memperlakukan tidak adil tersebut. Namun bila ia mampu memandang situasi dengan kaca mata pandangan yang positif, maka ia tetap bisa bersyukur. Ia tetap bersikap tenang dan tetap melakukan hal-hal yang baik.Tugas dan tanggung-jawabnya tetap dilakukan dengan sebaik-baiknya. Kalau ia memang memiliki kualitas pribadi yang baik, maka ia akan memancarkan aura pribadi yang baik, meskipun ia diperlakukan dengan tidak baik. Justru ia bisa memaafkan orang lain yang telah memperlakukan tidak adil tersebut. Sebaliknya, bagi sebagian kecil orang, ketika mereka menghadapi situasi yang buruk, maka mereka melakukan hal-hal yang justru merugikan diri-sendiri. Dalam kasus-kasus tertentu, ketika seseorang menghadapi situasi yang sulit, misalnya ia sedang mengalami kegagalan dalam menjalin hubungan berpacaran, seseorang sulit untuk bersyukur. Bahkan ada kasus seorang pemuda atau pemudi yang memilih jalan pintas dengan bunuh diri.Ia tega untuk mengakhiri perjalanan hidupnya.Ia lebih memilih menemui malaikat maut, sebelum waktunya.Ia menganggap bahwa bunuh diri sebagai cara terbaik untuk menyelesaikan masalah hidupnya.Padahal itu adalah salah besar.Mereka inilah yang justru memiliki mental yang tidak sehat.   Bersyukur dan Kebahagiaan Bersyukur dalam situasi yang sulit akan membuat seseorang memperoleh kebahagiaan hidup. Situasi yang sulit memang akan menimbulkan distress, tekanan atau ketegangan secara psikoemosional (Lahey, 2012), namun justru dalam situasi yang sulit, seseorang tetap mampu untuk bersyukur. Ketika rasa syukur menjadi gaya hidup dalam diri seseorang, maka sejatinya kondisi distress sedang diubah dengan situasi yang eustress (Lilienfeld, Lynn, Namy and Woollf, 2009). Ia memang menghadapi situasi yang sulit, namun kesulitan tersebut bukanlah menjadi penghalang bagi seseorang untuk bersyukur.Ia justru merasa bersyukur karena memperoleh kesempatan untuk mengatasi kesulitan. Dengan adanya kesempatan tersebut, maka ia mengoptimalkan segala potensinya, ide-ide, gagasan, bakat, intelektual, inovasi dan kreativitas untuk dapat mengatasi kesulitan tersebut.   Dengan ketekunan, kesabaran dan ketahanan dalam menghadapi situasi yang sulit tersebut, justru akan membuahkan daya kreativitas yang tinggi (Dacey, 1999). Demikian pula, situasi yang sulit akan mampu menumbuhkan kepribadian yang tangguh (resiliency) (Grotberg, 1995; Ganong and Coleman, 2002), sabar (patient) dan tekun (endurent) (Keyes, 2009). Keberhasilan dalam menghadapi situasi yang sulit akan menumbuhkan perasaan bahagia (happy) dan hal ini menjadi suatu pengalaman berharga yang dapat diajarkan dan diceritakan kepada anak-cucu di masa yang akan datang. Dengan demikian, anak cucu dalam keluarganya akan bisa belajar kepada orangtua yang telah melampaui pengalaman-pengalaman yang sulit tersebut. Maka anak-anaknya pun bisa menjadi orang-orang yang menghargai kedua orangtuanya.     Bersyukur  dan Panjang Umur Rasa syukur dan bersyukur sebenarnya akan menumbuhkan rasa optimis, percaya diri dan nyaman dalam diri seseorang sehingga kondisi psikologis ini akan dapat menggerakkan syaraf parasympathic yang berfungsi untuk meredakan ketegangan otot-otot (Lahey, 2012)Ketika seseorang dalam situasi yang sulit, misalnya seseorang sedang menghadapi sakit-penyakit, atau sedang mengalami kegagalan atau sedang bangkrut secara ekonomi, namun ia tetap bisa bersyukur atas keadaan diri tersebut. Dalam suatu testimony, Ibu K (inisial, umur 55 tahun) seorang teman penulis mengungkapkan pengalaman hidupnya. Ia mengalami suatu kebangkutan usaha, sehingga ia kecewa dan akhirnya divonis oleh dokter mengidap leukemia (kanker darah). Bahkan ia diprediksi hanya berumur 4-6 bulan lagi, karena leukemia sudah memasuki stadium 4. Ia sulit untuk bersukur atas hal itu, tetapi ia terus menyalahkan orang lain, menyalahkan diri-sendiri atau menyalahkan keadaan. Namun atas dorongan dan dukungan ke-3 anaknya, ia pun bangkit atas keterpurukan tersebut. Ia pun memperoleh semangat hidup dan keyakinan diri untuk menghadapi sakit-penyakitnya. Pada akhirnya, ia bisa sembuh total dari sakit kankernya, dan kini ia bisa menjalankan usahanya lagi dengan sebaik-baiknya. Dengan pengalaman yang buruk seperti kegagalan atau kebangkrutan secara ekonomi, maka ia bisa melakukan suatu refleksi atas perjalanan dan pengalaman hidupnya. Ia bisa melakukan koreksi dan introspeksi diri.Ia bisa mendapatkan pemahaman dan pencerahan hidup.Ia bisa menilai perilaku diri di masa lalu yang benar maupun yang salah. Ia bisa memperbaiki diri-sendiri dan mengambil langkah-langkah bijak untuk menghadapi masa depan hidupnya.  Bahkan ia bisa bangkit dan mengembangkan optimism untuk menapaki masa depan yang lebih baik. Dalam sejarah orang-orang kreatif telah dicatat seorang penemu lampu bola pijar,  Thomas Alfa Edison.  Banyak kali ia mengalami kegagalan dalam melakukan eksperimen, dan bahkan mengalami kebangkrutan secara ekonomi, namun banyak kali pula ia tetap bangkit dari keterpurukan. Pada akhir kisah hidupnya.Thomas Alfa Edison memperoleh kesempatan untuk menikmati hasil kerja kerasnya.Ia menjadi kaya raya dan hidup umur panjang (Dacey and Lennon, 1999; Piirto, 2004).   Refleksi Akhir Setiap orang akan dihadapkan pada situasi kehidupan yang tidak menentu. Adakalanya seseorang memiliki suasana hati yang baik (goodmood), namun bisa juga situasi buruk yang membuat suasana hati buruk (badmood).Namun demikian, semua pilihan ada pada kita masing-masing.Tergantung bagaimana melakukan suatu respon terhadap kondisi dan situasi tersebut. Respon buruk akan berdampak buruk pula pada kita, respon positif akan menumbuhkan hal-hal yang baik pula dalam hidup ini. Karena itu, bijaksanalah dalam mengambil respon tersebut dengan sebaik-baiknya. Tapi satu hal yang penting adalah tetap bersyukur dalam segala hal, maka hal ini akan memberi keuntungan bagi diri sendiri baik pada masa kini maupun masa yang akan datang.     Referensi Dacey, J. S and Lennon, K. H. (2009). Understanding Creativity. California: Josey-Bass. Eid, M and Larsen, R. J. (2008). The Science of Subjective Well-Being. New York: The Guilford Press. Ganong, L. H and Coleman, M.  (2002). Family Resiliency in Multiple Context.Journal of Marriage & Family, 64, 346-348. Grotberg, E. (1995). A Guide to Promoting Resilience in Children. New Jersey: Bernard Van Leer Foundation. Keyes, C. L. M. (2009). Toward a Science of Mental Health. In Lopez, S. J and Snyder, C. R. The Oxford Handbook of Positive Psychology (2nd edition). New York: Oxford University Press. Lahey, B.B. (2012). Psychology, An Introduction.Boston: McGraw-Hill. Lilienfeld, S. O, Lynn, S. J,  Namy, L. L and Woollf, N. J. (2009). Psychology: From Inquiry to Understanding. Boston: Pearson. Masten, A. S and Reed, M, G, J. (2005). Resilience in Development. In Snyder, C. K and Lopez, S, J. Handbook of Positive Psychology. New York: Oxford University Press. Piirto, J. (2004). Understanding Creativity. Arizona: Great Potential Press. Sirgy, M, J. (2012). The Psychology of Quality of Life.(2nd edition). London: Springer. Snyder, C. K and Lopez, S, J. (2005). Handbook of Positive Psychology. New York: Oxford University Press. Walgito, B. (2004). Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Yogyakarta: Andi Offset.   (ST-Enes) Sumber gambar: koleksi pribadi admin

Berita terbaru

Agenda

1 Okt Dies Natalis ke-63 Untar
3 Okt Research Week Untar
7 Okt Seminar Kebudayaan
7 Okt Pagelaran Wayang
15 Okt Wisuda ke-80 Untar