Pilih Laman
Memaafkan untuk Bahagia

1 Juli 2016

Oleh: Admin Pusat

Memaafkan untuk Bahagia Oleh: Sandy Kartasasmita, M.Psi., Psikoterapis., Psikolog Pakar Psikologi Klinis Dewasa    “Kesal rasanya melihat dia bersenang-senang seperti itu. Bahkan bukan kesal lagi, ingin marah saya rasanya. Enak sekali ya dia dapat melupakan apa yang dia pernah lakukan kepada saya dan seakan-akan tidak pernah ada kejadian apapun.”  Perasaan marah tersebut diceritakan salah seorang klien pada salah satu sesi terapi. Padahal yang bersangkutan merasa sudah berusaha memaafkan dan sepertinya sudah dapat memaafkan sesuai dengan apa yang dipelajarinya selama ini, baik dari pelajaran agama maupun himbauan teman-temannya. Setiap tahun, ada tradisi maaf memaafkan yang  selalu dilakukan. Setiap tahun pula tradisi tersebut berjalan, namun entah kenapa, pertikaian selalu kembali terjadi setelah memberikan maaf kepada orang yang membuat kita marah. Perasaan marah tetap dirasakan. Padahal rasanya sudah memaafkan. Tetapi kenapa perasaan marah dan benci tersebut tetap ada? Dimanakah letak permasalahannya? Kok tidak dapat benar-benar memaafkan? Apakah ada yang salah dengan kita? Apakah kita tidak benar-benar memaafkan? Selain itu, seringkali kita juga selalu beranggapan bahwa dunia tidak adil terhadap kita. “Dunia memang kejam” demikianlah istilah yang sering kali dikatakan oleh banyak orang di muka bumi ini. Hal-hal yang sepertinya sederhana namun dianggap menjadi sesuatu yang luar biasa bermasalah saat kita merasa diperlakukan tidak adil. “Bukan saya yang melakukan, tapi kenapa saya yang dipersalahkan?” adalah salah satu kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang banyak juga dialami oleh kita. Kalau terus menerus seperti ini, apakah kita bisa tidur dengan nyenyak? Bisakah makan dengan nikmat? Rasanya sulit, karena rasa dendam dan marah terus bergelora. Jadi sebenarnya apa sih yang menyebabkan hal ini terus terjadi? Kenapa sih saya terus masih menyimpan dendam yang dapat dirasakan sampai ke ubun-ubun? Orang-orang tetap dapat melihat kita masih marah. Kita pun masih mendengar orang-orang mengatakan bahwa kita masih marah kepada orang tersebut. Terlebih lagi, kita pun masih merasakan marah yang membuat  jantung berdegup kencang dan darah mengalir cepat bila mendengar atau membahas apalagi melihat orang yang membuat kita marah atau benci tersebut. Terlebih lagi, bila orang yang melakukan perbuatan menyakitkan tersebut adalah orang yang kita anggap sangat dekat dengan kita, seperti orangtua, kakak/adik, pacar, suami/istri atau teman baik (yang kita anggap baik) Memaafkan juga merupakan satu bentuk  perilaku untuk mengurangi rasa sakit hati akibat perbuatan orang lain. Memaafkan pun dapat terjadi saat kita mengetahui bahwa kita punya hak untuk merasakan perasaan negatif terhadap pelaku dan pelaku tidak punya hak untuk mendapatkan simpati dari kita. Hanya saja, setelah dapat memaafkan dan melalui seluruh prosesnya, maka perasaan sakit hati, dendam maupun marah dapat menghilang dan pada akhirnya kita dapat kembali tersenyum. Tersenyum karena perasaan lega dan lepas dari perasaan tidak menyenangkan tersebut. Hal tersebut dapat terjadi karena memaafkan memiliki berbagai manfaat yang akan berdampak secara positif terhadap perkembangan diri kita sendiri. Beberapa manfaat yang akan kita rasakan setelah dapat memaafkan antara lain: tekanan darah menjadi normal, berkurangnya stress, hubungan lebih sehat, berkurangnya kemungkinan menggunakan obat-obatan terlarang maupun alkohol, serta meningkatnya kesehatan jiwa dan fisik. Memaafkan juga berarti kita bersedia mengalirkan kembali energi negatif yang terperangkap dalam diri kita. Energi negatif karena mengingat segala hal yang berhubungan dengan kejadian, peristiwa maupun situasi tertentu dan mengalirkan energi yang membeku tersebut sehingga tercipta perasaan yang lebih baik. Memaafkan memang sebuah proses, bukan hanya sekedar mengucapkan “Saya memaafkan kamu.” Ucapan tersebut tidaklah cukup untuk dapat membuat kita memaafkan. Proses tersebut mulai dari menemukan penyebab dan seberapa marahnya kita terhadap orang itu, lalu apakah kita sudah memutuskan mau memaafkan atau belum, ada tindakan konkrit yang dilakukan untuk memaafkan dan juga melepas belenggu yang menyakitkan tersebut. Lalu, bagaimana dapat memaafkan dengan benar sehingga saat melihat orang yang membuat kita terluka tidak lagi memunculkan perasaan marah? Sebenarnya pada saat kita memang sudah mau memaafkan, kita ada baiknya mengetahui empat tahapan dalam memaafkan. Enright dan Fitzgibbons mengatakan keempat tahapan tersebut adalah uncovering, decision, working on forgiveness dan deepening. Pada tahapan uncovering, kita berupaya untuk mencari tahu lebih mendalam tentang perasaan marah tersebut. Salah satu pertanyaan yang dapat dilontarkan adalah bagaimana bila kita berhadapan dengan perasaan marah tersebut? Pada saat perasaan marah tersebut muncul, apa yang kita lakukan untuk menghadapi kondisi tersebut? Apakah kita akan menyangkal bahwa kita memang marah ataukah perasaan marah tersebut saya alihkan ke tempat lain karena bila marah hanya akan menambah dosa? Padahal, tidak ada yang salah dari marah. Kebiasaan kita adalah meredam marah dan mengalihkannya, padahal kalau memang marah, lebih baik kita rasakan benar bahwa kita marah dan mencari tahu apa penyebab marah itu terjadi. Apakah ingatan kita mendengar orang yang menyakiti kita berbicara, melihat ekspresi mukanya atau apa yang membuat kita benar-benar marah?

Setelah melalui tahap uncovering, maka selanjutnya kita dapat masuk ke tahapan kedua, yaitu decision. Pada tahap ini, kita akhirnya memutuskan bahwa apa yang telah kita lakukan untuk memaafkan ternyata kurang efektif dan bersedia untuk memaafkan yang tepat. Tahap ketiga adalah working on forgiveness adalah tahap kita belajar memahami bahwa memang demikian kenyataan yang terjadi, belajar berterima kasih terhadap orang tersebut karena dia memberikan pelajaran yang berharga pada diri kita dan pada tahap ini juga sesi terapi biasanya akan dilakukan (dapat menggunakan Cognitive Behavior TherapyRational Emotive Behavior TherapySolution Focused Behavior Therapy dan berbagai teknik terapi lainnya). Tahap terakhir adalah deepening. Pada tahap ini, kita belajar untuk menemukan makna dari penderitaan yang kita alami. Menyadari bahwa kita tidak sendirian di dunia ini yang mengalami kondisi menyakitkan tersebut, belajar menemukan tujuan hidup kita selanjutnya  dan akhirnya mendapatkan kebahagiaan dari memaafkan. Selamat membaca, mempraktikkan dan mendapatkan hidup yang lebih bahagia karena telah berhasil memaafkan.   (ST-Enes) Sumber gambar: Koleksi pribadi dari Rahmah Hastuti, M.Psi. dan Denrich Suryadi, M.Psi.

Berita terbaru

Agenda

17 Nov KBGI XIII
17 Nov Seminar Humaniora
24 Nov ICEBM