Pilih Laman
PERLUKAH PENDIDIKAN PRANIKAH?

10 Maret 2016

Oleh: Admin Pusat

PERLUKAH PENDIDIKAN PRANIKAH? Oleh: Widya Risnawaty, M.Psi., Psikolog Pakar Psikologi Klinis Dewasa   Pendidikan pranikah, cukup akrabkah anda dengan istilah tersebutPendidikan Pranikah merupakan suatu bentuk pendidikan bagi para pasangan yang akan menikah dengan tujuan untuk mempersiapkan pasangan dalam memasuki hidup pernikahan. Adapun isi dari pendidikan pranikah berupa informasi pengetahuan dan pelatihan ketrampilan dasar terkait dengan aspek-aspek yang diharapkan dapat memperkuat relasi pasangan agar mampu mempertahankan hidup pernikahan mereka (Senediak, 1990 dalam Carroll& Doherty, 2003; Halford, 2003). Mengapa pendidikan pranikah diperlukan? Mengacu pada suatu sumber literatur (Olson & DeFrain, 2006) diketahui bahwa perceraian yang kerap terjadi umumnya dikarenakan pasangan tersebut tidak siap menghadapi tantangan yang muncul dalam hidup pernikahan. Menilik angka perceraian di Indonesia dari data kementrian agama, terlihat bahwa rata-rata  perceraian setiap tahunnya sebesar 12,99% dan terdapat kecenderungan bahwa angka perceraian ini meningkat tiap tahunnya. Pada dua tahun terakhir yaitu 2012 dan 2013, rata-rata angka perceraian sebesar 15,45%. Berarti dalam satu hari rata-rata menjadi 959 kasus perceraian, atau 40 kasus perceraian setiap jamnya (Munady, 2015).Ketidaksiapan para pasangan disebabkan kurangnya pengetahuan mereka tentang hidup pernikahan, yang sebenarnya memang belum mereka jalankan. Sehingga ketidaktahuan ataupun ketidaksiapan mereka pada dasarnya dapat dipahami mengingat pengetahuan tentang peran sebagai suami ataupun istri memang perlu dipelajari.   Apakah manfaat pendidikan pranikah? Para pasangan yang telah memutuskan untuk menikah akan mendapat

bekal, baik berupa pengetahuan seputar hidup pernikahan ataupun ketrampilan-ketrampilan yang diharapkan dapat dimanfaatkan dalam membangun relasi dengan pasangan dan anggota keluarga yang lain. Pengetahuan dan ketrampilan tersebut mencakup: tujuan dan landasan pernikahan, memahami peran dan tanggungjawab sebagai suami atau istri, cara komunikasi yang efektif, resolusi konflik, pengasuhan dan pendidikan anak, pengaturan finansial, pengenalan karakter pribadi dan pasangan. Dengan kata lain, pendidikan pranikah diharapkan mampu membantu para pasangan untuk membangun fondasi yang kokoh bagi kehidupan pernikahan yang akan dijalankan oleh para pasangan, sehingga setiap konflik yang muncul dapat diatasi dan perceraian pun dapat dihindarkan.   Pentingkah pendidikan pranikah di mata khalayak umum? Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 400 orang responden yang telah mengambil keputusan untuk menikah, dengan berbagai latar belakang agama yang berbeda (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu) diketahui bahwa 96.8% responden menyatakan pendidikan pranikah penting bagi mereka (Risnawaty, 2015). Sampel ini menunjukkan bahwa hampir sebagian besar responden menganggap pentingnya pendidikan pranikah bagi mereka.   Bagaimana bentuk pendidikan pranikah? Secara garis besar, bentuk pendidikan  pranikah dapat disampaikan dalam bentuk: (a) seminar, (b) konsultasi pranikah, (c) pelatihan ketrampilan, (d) program pendampingan pasangan. Di Indonesia umumnya pendidikan pranikah tidak disampaikan melalui jalur pendidikan formal, tapi biasanya merupakan bagian dari kegiatan keagamaan. Sebagai contoh seperti yang dilakukan oleh lembaga Pastoral Keluarga pada Gereja Katolik (Tim Pusat Pendampingan Keluarga “Brayat Minulyo”, 2007; Subsabda, Subsabda, Utami, Lusiana, Handoyo, Vincent, 2004) menyelenggarakan kursus persiapan pernikahan bagi para pasangan yang telah memutuskan untuk menikah. Mereka memberikan pengetahuan terkait dengan hal-hal yang perlu dipersiapakan bagi pasangan yang akan menikah, baik dalam bentuk seminar ataupun konseling. Hal serupa juga dilakukan pada agama Kristen, dimana mereka memberikan waktu khusus sekitar 3-6 bulan untuk membekali pasangan sekaligus melakukan pendampingan dalam masa persiapan pernikahan agar kedua pasangan semakin mengenal satu sama lain dan memiliki bekal pengetahuan serta ketrampilan untuk mengelola sebuah keluarga. Kegiatan serupa juga dilakukan oleh penggiat kegiatan keagamaan muslim dengan mengacu pada ajaran agama Islam. Seperti yang diselenggarakan oleh APWA (Yulando, 2013). Di luar Indonesia, pendidikan pranikah justru sudah disampaikan melalui jalur pendidikan formal, khususnya pada tingkat pendidikan tinggi, seperti: (a) Pendidikan Pranikah di Australia, yang di sana lebih dikenal sebagai Relationship Education Programe. Program tersebut digagas oleh DR. Kim W. Halford dan berada di bawah naungan pemerintah Australia. Pendidikan Pranikah tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari pendidikan formal di Universitas (Halford, 2003); (b) bentuk Pendidikan Pranikah yang serupa juga dilaksanakan di Iran (Yazdanpanah, Eslami, Nakhaee, 2014)  dan(c) Amerika (Olson & DeFrain, 2006). Bahkan Olson sendiri telah mengembangkan alat ukur PREPARE/ENRICH yang ditujukan mengenali dan memetakan potensi atau kekuatan yang telah dimiliki oleh para pasangan, sehingga masing-masing pasangan dapat lebih saling mengenal sekaligus memperkuat relasi diatara mereka. Alat ukur ini pun sudah dapat diakses via online dengan mudah.   Jadi, perlukah pendidikan pranikah?Mengacu pada seluruh paparan di atas, dapat ditarik suatu pemahaman bahwa pendidikan pranikah sangat diperlukan sebab upaya menyelamatkan pernikahan sebaiknya tidak dilakukan setelah hidup pernikahan itu berjalan  tapi jauh sebelum pernikahan itu terjadi. Alangkah baiknya bila setiap pasangan dengan rasa tanggungjawab atas pilihan hidup yang akan diambil, mempersiapkan diri sebaik-baiknya bagi hidup pernikahan mereka.   DAFTAR PUSTAKA Caroll, J.S., Doherty, W.J. (2003). Evaluating the Effectivenenss of Premarital Education: A Review of Outcome Research. Family RelationJournal, 52.105-118. Diunduhdarihttp://www.fullmarriageexperience.com. Halford, W.K. (2003). Best Practice in Couple Relationship Education. Journal of Marital and Family Therapy, 29 (3). 385-406. Munady.(2015, Desember 22). Angka perceraian di Indonesia sangat fantastis. Pikiran Rakyat. Diunduh dari http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2015/12/22/354484/angka-perceraian-di-indonesia-sangat-fantastis Olson, D.H. & Defrain, J. (2006). Marriage & the family: intimacy, diversity and streght. (5rd edition). Mountain View, CA: Mayfield Risnawaty, W. (2015). Gambaran persepsi para calon pengantin terhadap pendidikan pranikah di Jakarta. Naskah tidak diterbitkan Subsabda, Y., Subsabda, E., Utami, A., Lusiana, M., Handoyo, V.W., Vincent, S. (2004). Konseling Pranikah: Sebuah panduan untuk membimbing pasangan-pasangan yang akan menikah. Bandung: Mitra PustakaTim Pusat Pendampingan Keluarga “Brayat Minulyo”. (2007). Kursus Persaiapan: Hidup berkeluarga. Yogyakarta: Penerbit KanisiusYazdanpanah, M., Eslami, M.,  Nakhaee, N., (2014). Effectiveness of the Premarital Education Programme in Iran.2014 (2014).Hindawi. Diunduh dari http://www.hindawi.com/journals/isrn/2014/964087/. Yulando, M. (2013. Maret 09). Seminar Akbar PraNikahIslami 2013: “SucikanCinta, RaihBahagia”. Dakwatuna.Diunduh dari http://www.dakwatuna.com/2013/04/09/30947/seminar-akbar-pra-nikah-islami-2013-sucikan-cinta-raih-bahagia/#axzz445vSIill (ST-Enes) Sumber Gambar: Koleksi Admin

Berita terbaru

Agenda

17 Nov KBGI XIII
17 Nov Seminar Humaniora
24 Nov ICEBM