Pilih Laman
Studi Budaya dan Psikologi

6 Maret 2016

Oleh: Admin Pusat

Studi Budaya dan Psikologi Yohanes Budiarto Peneliti Psikologi Sosial dan Adat Dosen Penuh Waktu Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara.   Konferensi lintas budaya psikologi 2002 di Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada memperkenalkan beragam temuan dan variasi psikologi dalam individu yang memiliki keragaman budaya. Pada dasarnya, setiap orang akan tertarik dengan proses budaya yang mempengaruhi tradisi, kebiasaan, dan gaya hidup. Lalu, apa makna budaya yang sebenarnya di psikologi? Begitu banyak definisi budaya yang menjadi konsep para pakar dari berbagai disiplin ilmu. Budaya sering dikaitkan dengan ras, kebangsaan, atau etnis. Orang Tionghoa sering disebut memiliki budaya Tionghoa, orang Jawa sering disebut memiliki budaya Jawa. Dari keseharian, kita juga seringkali mengaitkan budaya dengan jenis makanan, seni tradisional, gaya berpakaian, tradisi, dan ritual. Para pakar mengutarakan bahwa budaya dapat dideskripsikan dalam berbagai kategori: a) deskriptif: segala tindakan dan aktivitas yang berhubungan dengan budaya; b) historis: peninggalan dan tradisi yang berkaitan dengan sekelompok orang; c) normatif: klarifikasi dari hukum/aturan yang berhubungan erat dengan nilai budaya itu sendiri; d) psikologis: deskripsi yang menekankan pada proses pembelajaran, memecahkan masalah, dan segala pendekatan perilaku yang berhubungan dengan budaya (Kroeber dan Kluckholn, 1952; Berry, Poortinga, Segall, dan Dasen, 1992) Definisi dari budaya dalam perspektif psikologi telah dipaparkan oleh Matsumoto (2013) sebagai suatu sistem dinamika dari aturan/hukum yang bersifat eksplisit maupun implisit yang dibentuk oleh sebuah kelompok dengan tujuan menjaga kelangsungan hidupnya. Aturan, sikap, nilai, kepercayaan, norma, perilaku yang ada di dalam sebuah kelompok diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi suatu hal yang statis dalam perubahan yang potensial. Budaya lahir dari siklus timbal balik saat seseorang melakukan observasi, penamaan, umpan balik, dan penguatan. Saat sesuatu hal dinamakan sebagai budaya, maka hal itu akan menjadi budaya, dan selanjutnya budaya tersebut akan menguatkan aspek tersebut. Budaya secara subjektif terdiri antara lain seperti perilaku, kepercayaan, sikap, dan nilai, sementara secara objektif budaya dapat dikatakan seperti makanan, rumah, pakaian, dan lainnya. Saat kata budaya hadir dalam ilmu psikologi, akan hadir pula di benak kita kata psikologi lintas budaya, psikologi budaya, psikologi pribumi yang saling tumpang tindih. Tulisan ini menunjukkan dan menyederhanakan perbedaan antar pendekatan yang ada. Pertama, peran dari budaya

dilihat dari perspektif psikologi lintas budaya dan psikologi budaya. Berry (1976) dan Loner & Adampoules (1997) memperlakukan budaya sebagai variabel yang mendahului di psikologi lintas budaya. Dengan demikian, budaya diposisikan terpisah dari individu yang menyebabkan perilaku seseorang terpisah dengan budayanya. Pandangan yang berbeda menyatakan bahwa psikologi budaya memakai pendekatan yang bertolak belakang di mana budaya dilihat sebagai suatu bagian yang penting di dalam diri manusia (Jahoda, 1992). Selanjutnya, Jahoda menjelaskan bahwa budaya adalah cara untuk memahami dunia. Mekanisme ini dipakai oleh banyak orang dan menjadi kesepakatan yang umum. Ilmu dan makna dari budaya ini kemudian dibentuk setiap hari di antara individu dalam kelompoknya yang kemudian disebut dengan budaya.  Pada akhirnya, dapat dikatakan bahwa budaya tidak dapat terpisah dengan pikiran individu dan perilaku individu dalam psikologi budaya. Melalui pendekatan metodologi, psikologi lintas budaya menganut prosedur yang dibuat oleh metodologi psikologi termasuk penggunaan alat psikometrik yang dikenal untuk membuat perbandingan lintas budaya. Pada sisi lain, psikologi budaya diperoleh dari penelitian atas masalah dan prosedural dari analisis budaya yang alamiah. Sebagai contoh, penelitian psikologi budaua di Jawa berfokus pada emosi moral yang dikenal dengan nama “isin”. Budaya Jawa menekankan keharmonisan antara ciptaan dan alam. Makna “isin” tidak mengandung pendekatan dengan fokus individu (budaya Barat) melainkan mengandung nilai sosial. “ngisin-ngisinke” memiliki makna emosi “isin” yang berhubungan dengan pihak lain, terutama yang memiliki urutan atau status lebih tinggi. Melalui sudut pandang ini, aplikasi dari pengukuran psikologi tercantum dalam literatur psikologi Barat: GASP dan TOSCA 3 terhadap komunitas Jawa yang memberi hasil yang bias. Sementara, aplikasi GASP dan TOSCA 3 dapat berguna dalam penelitian psikologi lintas budaya dengan tujuan mengidentifikasi persamaan dan perbedaan antara variabel yang diteliti dari dua atau lebih budaya. Dalam membedakan karakteristik yang beragam di psikologi lintas budaya dari psikologi budaya terletak di variabel dan prosesnya. Budaya diposisikan sebagai variabel independen bukan sebagai proses. Dalam psikologi lintas budaya, budaya terlihat disederhanakan terhadap indeksnya. Kumpulan budaya seperti ini yang akan diberikan label untuk diperbandingkan secara lintas budaya. Contoh sederhananya, budaya Jawa dalam kategori data “1” dan Korea “2” sebagai variabel independen yang membedakan konsep psikologi satu dengna yang lain. Pada sisi lain, psikologi budaya menekankan pada proses budaya secara langsung dan terkadang menganut prinsip etnografis dan analisis suatu tulisan dengna metode antropologi. Psikologi budaya juga memiliki makna  intepretasi atas dunia. Perbedaan lain yang ada terkait pada peran dari responden dalam penelitian.  Dalam penelitian psikologi lintas budaya, responden yang biasanyda merupakan orang dewasa diperlakukan sebagai suatu entitas statis dalam karakterisik psikologinya. Dalam psikologi budaya, orang dewasa (responden) diteliti dalam hal pembelajaran dan penerapan budaya melalui perkembangan psiko-sosial (Azuma,1994). Kedua, perbedaan antara psikologi budaya dengan psikologi alami adalah sebagai berikut. Psikologi budaya menekankan pada pembuatan teori etnis seperti teori mengenai bangsa dan rakyat dalam fungsi psikologi daripada penelitian dalam teori psikolog (Harkness & Super, 1996). Pada sisi lain, psikologi alami memposisikan teori bangsa dan rakyat dalam fungsi psikologi sebagai teori psikologu yang formal dan menerapkannya dalam penelitian psikologi. Sebagai contoh, seorang peneliti ingin menggali lebih dalam emosi dalam budaya Jawa yang konsepnya disebut “isin”. Kata “isin” ini diteliti dari perspektif struktur bahasa jawa. Pendekatan sosial-bahasa akan digunakan untuk mengidentifikasi pemakaian kata “isin” pada tingkat hirarki yang sama (“ngoko”) dan status sosial yang lebih tinggi (“krama” dan “krama inggil”). Dari sudut pandang perspektif interdependen dalam budaya kolektif yang ditemukan pada masyarakat Jawa, “isin” tidak hanya dirasakan pada pihak yang salah saat kegagalan terjadi melainkan juga terasakan oleh kerabatnya. Sistem budaya ini dinamakan “ngisin-ngisini” yang bermakna tanggyng jawab sosial. Penelitian “isin” bila dibandingkan dengan konsep tradisional Barat menganut prinsip individu dan kesadaran sosial. Studi alamiah seringkali menganut standar metodologi psikologi yang berhubungan dengan format kuesioner dan menekankan pada variabel bukan proses. Perkembangan alami validitas dan realnilitas atas instrumen sewajarnya dikaitkan dengan analisis faktor explorasi dan analisis faktor konfirmasi yang menimbulkan hasil psikometrik yang baik dalam pengukurannya. Saya menyimpulkan bahwa psikologi alami menggunakan metode yang sama dnegna psikologi lintas budaya dan memiliki nilai dan semangat yang sama dengan psikologi budaya.   Referensi: Azuma, H. (1994). Two modes of cognitive socialization in Japan and the United States. In P. M. Greenfield & R. R. Cocking (Eds.), Cross-cultural roots of minority child development (pp. 275–284). Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates. Berry, J.W. (1976). Human ecology and cognitive style: Comparative studies in cultural and psychological adaptation. New York: Sage/Halsted. Berry, J. W., Poortinga, Y. H., Segall, M. H., & Dasen, P. R. (1992). Cross-cultural psychology: Research and applications. New York: Cambridge University Press. Harkness, S., & Super, S.M. (Eds.) (1996). Parents’ cultural belief systems: Their origins, expressions, and consequences. New York: Guilford Press. Jahoda, G. (1992). Foreword. In J.W. Berry, Y.H. Poortinga, M.H. Segall, & P.R. Dasen, Crosscultural psychology: Research and applications (pp. x–xii). Cambridge: Cambridge University Press. Kroeber, A. L., & Kluckholn, C. (1952). Culture: A critical review of concepts and definitions (Vol. 47, No. 1). Cambridge, MA: Peabody Museum. Matsumoto, D. And Juang, L. (2013). Culture and psychology (5th ed.). Belmont, CA, US: Wadsworth/Thomson Learning. (ENES) Gambar: Koleksi pribadi admin

Berita terbaru

Agenda

1 Okt Dies Natalis ke-63 Untar
3 Okt Research Week Untar
7 Okt Seminar Kebudayaan
7 Okt Pagelaran Wayang
15 Okt Wisuda ke-80 Untar