Pilih Laman
Cross Cultural Misunderstanding in Marketing part 1

6 Maret 2016

Oleh: Admin Pusat

Cross Cultural Misunderstanding in Marketing (Part 1) oleh: Meike Kurniawati, S.Psi., M.M. Pakar Psikologi Konsumen dan Marketing   Pemahaman budaya merupakan salah satu faktor penting yang menentukan kesuksesan bisnis di pasar internasional. Para pebisnis yang berencana menjual produk mereka ke pasar luar negeri atau multinasional diharapkan terlebih dahulu pembelajaran budaya di pasar tujuan kita. Sebab, apabila faktor budaya diabaikan, maka tidak menutup kemungkinan bisnis akan gagal. Dalam konteks bisnis internasional, acapkali kita jumpai kesalahan-kesalahan fatal akibat dari kurangnya pemahaman mengenai budaya setempat. Kesalahan-kesalahan ini acapkali juga dilakukan oleh perusahaan-perusahaan papan atas. Kesalahan-kesalahan tersebut tentunya berdampak pada kegagalan. Berikut contoh kecil perusahaan yang “terpeleset” karena tidak memperhatikan budaya.

  1. Perusahaan General motors menjual mobil dengan merk “Chevy Nova”. Produk ini gagal ketika dipasarkan di Puerto Rico. Usut punya usut hal ini terjadi karena meskipun Nova artinya adalah bintang, tetapi ketika dilafalkan dalam bahasa Spanyol bunyinya serupa dengan “no va” yang artinya tidak bisa jalan. Kini anda tau kan kenapa produk ini gagal?
  2. Sebuah maskapai penerbangan EMU (lafal seperti membaca MU klub sepakbola) gagal total ketika masuk ke pasar Australia. Apa sebab? Apakah pelayanannya buruk? Mahal? Delay? Ternyata bukan itu semua penyebabnya. Penyebabnya adalah EMU di Australia adalah sejenis burung tetapi burung yang tidak bisa terbang. So… bagaimana mungkin anda mau naik pesawat yang tidak bisa terbang??
  3. Gerber baby food pernah mengalami kegagalan ketika menjual produknya di Africa. Bukan karena harganya mahal? Atau rasa tidak enak? Atau masalah-masalah klasik lainnya. Masalahnya adalah orang Afrika yang sebagian besar pada waktu itu masih buta huruf, memiliki kebiasaan mengenali isi produk dari gambar yang ada di kemasan tersebut. Terbayang kan apa yang ada di benak mereka ketika melihat kemasan produk dengan gambar bayi itu?

1001029_015000004279_A_400Sumber gambar : http://thekrazycouponlady.com/2013/09/12/gerber-baby-food-jars-only-0-22-at-target. 4. Honda meluncurkan sebuah brand baru bernama Honda Fitta di negara-negara Scandinavia. Namun sayangnya, kurangnya pemahaman cross culture membuat Honda tidak menyadari bahwa fitta adalah kata vulgar dalam bahasa kuno Swedia, Norwegia, dan Denmark untuk menyebut organ intim wanita. Honda kemudian mengganti Fitta menjad Honda Jazz. Sound familiar with this brand?   Masih banyak lagi kesalahan-kesalahan pemahaman cross cultural dalam bidang marketing. Tidak hanya dalam masalah bahasa, symbol, melainkan juga dalam hal promosi, ukuran kemasan, dll. Untuk lebih mengetahui bagaimana cross cultural misunderstanding, nantikan dalam tulisan berikutnya. In Cross Cultural Misunderstanding in Marketing part 2   References : Arnould, J.E, Linda, L.Price, and George, M. Zinkhan. (2002), Consumers. International Edition. McGraw – Hill. Tjiptono, 2012. 100 Kasus unik Cross Cultural Misundertanding. Jogjakarta : Andi   (ST-enes)