Pilih Laman
Gnothi Se Auton

21 Februari 2016

Oleh: Admin Pusat

Gnothi Se Auton Oleh: Monty Satiadarma Pakar Psikologi Klinis – Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara   Gnothi se auton adalah ungkapan bahasa Yunani yang artinya kenalilah dirimu sendiri (know thyself). Istilah ini kerap diungkapkan oleh para filsuf Yunani, dan salah satunya yang kerap mengemukakan hal ini adalah Aristoteles. Istilah ini tidak istimewa milik bangsa Yunani, tetapi juga diungkapkan agak berbeda namun memiliki makna sama dalam kitab Sun Tzu. Karena kitab ini mengupas tentang strategi tempur, maka yang dikemukakan adalah “kenali dirimu, kenali musuhmu, seribu kali perang, seribu kali menang”. Jadi untuk memenangkan peperangan, seseorang harus mengenal terlebih dahulu dirinya sendiri. Padahal perang yang terbesar adalah perang melawan diri sendiri. Diri yang harus diperangi adalah nafsu serakah, iri, dan dengki yang kemudian menjadi landasan kebohongan dan tipu muslihat, seperti yang direpresentasikan oleh tokoh Sangkuni dan Pandita Dorna (Druna) dalam kitab Mahabharata yang disusun selama 800 tahun lamanya dari periode 400 sebelum hingga 400 sesudah Masehi. Sangkuni adalah patih kerajaan Hastina yang memiliki kepentingan politik dan kedudukan, dan Dorna adalah seorang guru yang memiliki kesaktian (pengetahuan dan ilmu) yang amat tinggi. Dorna sebagai guru seharusnya mengajarkan para muridnya untuk bertindak luhur, tak hanya belajar ilmu dan pengetahuan; namun juga belajar melawan nafsu angkara, yang kerap membawa bencana kehidupan bagi orang banyak termasuk bagi diri sendiri.

Belajar di perguruan tinggi dan dari pengalaman hidup bukan sekadar belajar ilmu dan pengetahuan, tetapi belajar mengendalikan diri dari hawa nafsu untuk menjadi seorang yang terpelajar dan luhur. Belajar ilmu dan pengetahuan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan diri dan banyak orang, dan dalam belajar dan mengajar setiap individu perlu untuk tahu diri (Gnothi Se Auton). Belajar layak dilakukan seluas-luas dan sedalam-dalamnya; akan tetapi mengajar harus tahu batas kemampuan diri. Seorang pengajar yang mengajarkan ilmu pengetahuan hanya dilandasi oleh keterampilan dan bukan atas landasan kebenaran, tak ubahnya bagai Pandita Dorna. Seorang guru yang mengajar demi mengejar keuntungan pribadi, boleh jadi memiliki sifat dan karakter Sang Pandita yang amat cerdas namun penuh tipu daya. Akhir akhir ini dunia psikologi makin marak dengan keberagaman kajian ilmu dan pengetahuan. Sebagian hasil kajian dilandasi kebenaran, sebagian lain dilakukan sekadar demi mencari pembenaran. Psikolog kian banyak yang melakukan kegiatan publik dan mencari eksistensi diri di media massa dengan mengemukakan hal-hal hingga memberikan pelatihan tanpa landasan kebenaran. Popularitas dan uang merupakan sasaran utama, karena memang keduanya memiliki kaitan yang erat dalam dunia saat ini tak terkecuali di dunia pendidikan yang seharusnya mengedepankan nilai-nilai kehidupan luhur. Ada individu yang bukan psikolog mengaku diri psikolog, mengatasnamakan kelompok psikologi, membuat pernyataan yang tidak dilandasi kaidah psikologi. Ada psikolog yang mengemukakan hal di luar kepakarannya dan membuat kebohongan publik seolah-olah ia sangat memahami hal tersebut. Padahal, prinsip Gnothi Se Auton merupakan salah satu landasan dasar dalam pendidikan psikologi. Atau mungkin mereka justru mengenal dirinya sebagai pembual (hucksterism) berkedok ilmu. Masalahnya terletak sebagian besar pada sikap ingin cepat (instantaneous) yang memang lebih cenderung sikap awam pada umumnya dan bukan ilmuwan. Tiap individu pada dasarnya ingin memperoleh sesuatu secara cepat, tak terkecuali mereka yang bergerak dalam bidang ilmu pengetahuan. Akan tetapi ilmuwan selayaknya lebih menyadari kaidah ilmu dan pengetahuan yang berupaya mencari kebenaran (bukan pembenaran) demi kesejahteraan (well being) manusia. Gnothi se auton membuat seorang ilmuwan menyadari batas kemampuan diri dan upaya untuk memperbaiki diri, bukan dengan melakukan penyimpangan termasuk manipulasi data, plagiarisme, atau melakukan kebohongan publik termasuk pemalsuan gelar, sertifikat, dan pemaksaan kehendak; seperti layaknya Pandita Dorna memaksa dan menipu Bambang Ekalaya untuk memotong ibu jari nya guna mengalahkan para ksatryia lain. Patuhnya Ekalaya adalah ketulusan namun kebodohan seorang murid, yang belum tahu makna ibu jari dalam seni memanah. Ia dibohongi gurunya, dan dibodohi pula, walau ia kemudian tidak berdaya menghadapi kenyataan itu. Seorang ilmuwan layak untuk mempelajari berbagai hal guna memperluas wawasan ilmu dan pengetahuan yang ia miliki; tetapi tak layak membuat kesaksian dan pengajaran palsu bagi muridnya dan publik, karena hal ini tidak lagi dilandasi niat mensejahterakan masyarakat melainkan mencari kesenangan pribadi. Sungguh tidak dapat disangkal pandangan pelopor psikoanalisa Sigmund Freud, betapapun demikian banyak bantahan terhadap teori psikoanalisis. Nyatanya ilmuwan pun tak terlepas dari dorongan yang tidak mereka sadari untuk melakukan segala upaya demi kesenangan pribadi (pleasure principle), yang lebih banyak dikenal sebagai libido, nafsu hewani, hal yang senantiasa harus diperangi individu guna memperoleh pencerahan (enlightenment). Kalau tidak, ia senantiasa berada dalam kegelapan (shadow), dan tak akan pernah mengenali dirinya sendiri. Gnothi se auton akan menghantarkan individu memperoleh pencerahan, demi berbagi dengan orang lain dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (ST-Enes)

Berita terbaru

Agenda

17 Nov KBGI XIII
17 Nov Seminar Humaniora
24 Nov ICEBM