Pilih Laman
REFLEKSI: SARANA MENUJU KEBIJAKSANAAN

16 Februari 2016

Oleh: Admin Pusat

“REFLEKSI:SARANA MENUJU KEBIJAKSANAAN” We just have to try our best, God will do the rest Oleh: Riana Sahrani Staf pengajar Fakultas Psikologi Untar Pernah suatu ketika saya menanyakan pada seorang mahasiswa saya, apakah ia sudah melakukan refleksi. Jawaban yang saya terima cukup membuat saya terpana: “Pernah Bu, di Salon kan?”. Jadi jelaslah bagi saya, bahwa tidak semua orang akrab dengan istilah “refleksi”, yang menjadi salah satu pokok pembahasan bidang ilmu Filsafat dan juga Psikologi. Penelitian saya sendiri adalah mengenai keterkaitan antara kebijaksanaan (wisdom) dengan refleksi (reflection). Hasil yang saya dapatkan yaitu bahwa salah satu penyumbang terbesar kebijaksanaan seseorang adalah apabila ia melakukan refleksi (faktor lain yang saya teliti adalah pengalaman hidup yang sulit, usia, dan strategi refleksi) (Sahrani, 2014). Kebijaksanaan sangatlah penting untuk dicapai individu. Hal ini karena kebijaksanaan adalah kepandaian individu, baik secara kognitif, afektif, dan perilaku, serta adanya kemauan untuk melakukan refleksi, dalam menilai dan memutuskan suatu masalah. Dengan kebijaksanaan akan tercipta keharmonisan antara individu dan lingkungan (Sahrani, 2014). Jadi sebenarnya apa itu refleksi dan bagaimana cara kita melakukannya? Saya akan berusaha menguraikannya dengan penjelasan berikut ini. Orang awam mengenal refleksi sebagai “evaluasi”. Jadi apabila kita bertanya apakah seseorang sudah melakukan evaluasi pengalaman hidupnya, boleh jadi ia akan langsung memahami artinya. Sebenarnya apakah evaluasi itu sama dengan refleksi? Pada evaluasi, kita akan berusaha mengingat kembali pengalaman hidup kita dan kemudian menilai, apakah kita sudah (atau belum) mencapai apa yang kita idamkan sebelumnya. Sedangkan pada refleksi, individu akan berusaha mengkaji pengalaman hidupnya secara lebih mendalam (terutama pengalaman hidup yang sulit), baik secara kognitif maupun afektif. Boud, Keogh, dan Walker (1985) mengemukakan bahwa ada tiga tahapan dalam proses refleksi, yaitu: returning to the experience (mengkaji pengalaman), attending to feelings (mengkaji perasaan yang ada, baik yang mendorong atau hal yang membuat individu menghindari refleksi), dan re-evaluating the experience (mengevaluasi atau menilai kembali pengalaman tersebut). Jadi dalam melakukan refleksi, kita akan berusaha memikirkan, menganalisa, dan memahami tindakan atau peristiwa yang terjadi pada diri kita. Dengan melakukan refleksi diharapkan orang dapat belajar dari pengalaman hidupnya, sehingga dapat mengembangkan diri menjadi lebih baik. Hal ini karena refleksi juga akan menimbulkan adanya kepekaan dan kesadaran diri yang lebih tinggi kualitasnya dari sebelumnya (Ardelt, 2003). Apabila refleksi dilakukan secara efektif, maka akan timbul pembelajaran pada individu, yaitu adanya perubahan makna dan cara pandang individu terhadap suatu masalah (Boud et al., 1985). Refleksi itu sendiri dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, bisa dengan cara verbal atau pun non verbal. Cara verbal, antara lain misalnya dengan cara berdiskusi, melakukan ‘curahan hati’/catharsis, menceritakan kembali pengalaman hidup, dan sebagainya. Sedangkan dengan cara non verbal, dapat kita lakukan misalnya dengan membuat scrap book mengenai kenangan atau pengalaman hidup kita, menyusun foto-foto kenangan, menulis di buku harian/diary, merenung, sambil bermeditasi, menulis pengalaman hidup yang paling berkesan serta dianalisa, dan lain sebagainya. Penulis sendiri berusaha menerapkan bagaimana melakukan refleksi ini pada sebagian mahasiswa yang penulis ajarkan, yaitu pada mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi (mata kuliah KAP/Kecakapan Antar Personal, pada tahun 2005-2011) dan Fakultas Psikologi (mata kuliah Psikologi Perkembangan, pada tahun 2005-sekarang). Pada mahasiswa FTI, penulis melakukan penerapan refleksi dengan cara meminta para mahasiswa untuk menuliskan pengalaman hidup yang paling berkesan, mulai dari masa kecil hingga dewasa. Pengalaman tersebut kemudian dianalisis dengan Johari Windows. Contohnya sebagai berikut (dengan seizin mahasiswa ybs.): … Saya dibesarkan dalam keadaan ekonomi keluarga yang pas-pasan, kami tidak pernah terlalu kekurangan atau berlebihan, hal ini dikarenakan keluarga saya yang selalu hidup hemat...Saya sering membantu usaha ini sejak saya kecil, di kala terlalu banyak pelanggan sementara yang melayani hanya kedua orang tua saya. Orang tua saya tidak memakai satupun pegawai karena tidak mampu membayar gajinya. …. Saya awalnya ingin kuliah kedokteran, karena saya saat itu menilai pekerjaan sebagai dokter dapat menghasilkan banyak uang. Namun karena untuk masuk kuliah kedokteran perlu biaya yang besar saya tidak diperbolehkan orang tua saya. Mereka beranggapan jurusan teknik informatika lebih berguna dan cepat mendapat pekerjaan. Saya sempat merasa kesal karena prestasi saya jauh lebih bagus dari teman-teman saya yang diperbolehkan masuk kedokteran, sehingga saya terus membujuk mereka. Karena saya terus membujuk orang tua saya, akhirnya ayah saya marah. Saat itu saya diantar ayah saya ke sekolah naik sepeda motor, saya dimarahi sepanjang jalan, dia membentak dan memaki saya sangat keras dengan kata-kata kasar sepanjang perjalanan sampai semua orang di jalan melihat, ia bahkan sempat berhenti di pinggir jalan untuk berteriak-teriak. Mata saya sangat sembab karena menangis. Di sepanjang perjalanan saya sangat malu, apalagi waktu sampai di sekolah dengan wajah kacau seperti itu. Saat itu saya merasa dendam sekali pada ayah saya, padahal saya tidak bertindak apa-apa, itu baru keinginan saja, saya merasa tindakannya itu sangat berlebihan. Sakit hati saya berlanjut sampai suatu saat liburan ayah, ibu dan adik saya datang ke menjenguk saya. Saat itu saya sedang bertengkar dengan adik saya, saya sangat marah sehingga mengata-ngatainya dengan kata-kata kasar dan ia membalas saya. Ayah saya lalu menyuruh saya masuk ke kamar, saya takut karena pasti akan dimarahi lagi... Akan tetapi saya terkejut karena saat itu ayah saya meminta maaf atas perbuatan yang dilakukannya yaitu memarahi dan membentak saya di jalan waktu saya SMA. Dia mengatakan waktu itu dia sedang emosi, tidak sepantasnya berbuat seperti itu. Dia juga mengatakan kepada saya agar tidak berkata-kata kasar seperti dirinya, karena dia juga akan berubah dan tidak akan berkata-kata kasar lagi. Saya hanya bisa menangis, dalam hati saya sudah memaafkannya...Saya juga dapat menerima keadaan saya, kuliah di jurusan teknik informatika ternyata menyenangkan. Saya berkeyakinan bahwa bidang yang saya pelajari sekarang akan sangat berguna bagi masa depan saya, di mana pesatnya perkembangan teknologi akan mempengaruhi tiap aspek kehidupan. Tabel 1. Analisis pengalaman melalui Johari Window

JOHARI WINDOW Saya Tahu Saya Tidak Tahu
Orang Lain Tahu ·      Saya adalah orang yang ambisius, rajin dan selalu berusaha menjadi yang terbaik. Karena saya ingin hasil yang terbaik dari apa yang saya kerjakan.·       ·    Saya adalah orang yang tertutup ·    
Orang Lain Tidak Tahu ·      Saya sering menyimpan kemarahan/ dendam saat tidak bisa melawan terhadap sesuatu yang tidak saya suka. Dendam tersebut bisa saya hilangkan saat berbagi cerita dengan orang-orang terdekat. ·       Daerah Buta 

Selanjutnya pada mahasiswa Psikologi, penulis menerapkan refleksi pada mahasiswa dengan cara meminta mereka menceritakan pengalaman hidup tersulit yang pernah mereka alami. Mereka harus bercerita secara verbal/lisan dalam kelompok, tanpa ada tanggapan/komentar apapun dari para pendengar. Kemudian, mahasiswa diminta untuk menuliskan kembali pengalaman hidup tersebut, lalu tulisan itu dianalisis dengan menyertakan teori-teori Psikologi yang relevan dengan masalah tersebut.   Sebagian mahasiswa menyatakan bahwa dengan melakukan refleksi ini, mereka mendapatkan pencerahan, sehingga mereka lebih ’jernih’ melihat suatu masalah dan berusaha mengatasinya secara lebih baik dari sebelumnya. Mereka juga menjadi lebih menyadari kelebihan diri yang masih dapat diperkuat dan kelemahan diri yang harus diperbaiki, sehingga kepercayaan diri dan self esteem mereka pun semakin meningkat. Kesimpulannya adalah, refleksi sangat penting untuk kita lakukan, karena kita dapat belajar dari pengalaman hidup dan menjadi orang yang lebih baik. Kita jadi lebih berhati-hati dalam berperilaku dan juga ketika harus mengambil keputusan. Setelah itu diharapkan kita dapat menjadi orang yang (lebih) bijaksana.   Daftar Pustaka  Ardelt, M. (2003). Empirical assessment of a three-dimensional wisdom scale. Research on Aging, 25, 275–324.  Boud, D., Keogh, R., & Walker, D. (1985). Reflection: Turning experience into learning. New York, NY: Nichols.  Sahrani, R. (2014). Peranan refleksi, strategi refleksi, kesulitan hidup, dan usia terhadap kebijaksanaan. Disertasi,  Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia. (ST-Enes)

Berita terbaru

Agenda

1 Okt Dies Natalis ke-63 Untar
3 Okt Research Week Untar
7 Okt Seminar Kebudayaan
7 Okt Pagelaran Wayang
15 Okt Wisuda ke-80 Untar