Pilih Laman
FILM: The Alternative Medium of Communication (Bincang-Bincang Film A Copy of My Mind) in FIKom Untar

15 Februari 2015

Oleh: Admin Pusat

FILM: MEDIUM KOMUNIKASI ALTERNATIF (Bincang-Bincang Film A Copy of My Mind di UNTAR) Ada cinta, semua cinta buatan Indonesia” [1] Kembali, Yayasan Tarumanagara bersama dengan Tarumanagara Knowledge Center (TKC) mengadakan bincang film didukung oleh Fakultas Ilmu Komunikasi, dan Fakultas Seni Rupa & Desain di Auditorium Gedung Utama Kampus 1 UNTAR Lantai 3 (audiotorium), Senin, 15 Februari 2016. Bincang film ini membahas Film A Copy of My Mind yang disutradarai oleh Joko Anwar. Perbincangan yang bernas tapi santai ini dimulai dengan open mic stand-up comedy dilanjutkan dengan pemutaran video trailer dan tayangan behind A scene dari film.  Setelah pemutaran kedua video tersebut, dimulailah acara bincang film dengan bintang utama:Joko Anwar (Sutradara), Tia Hasibuan (Produser) dan Rama Aba (Penata Musik). Tidak hanya bincang-bincang mengenai film tersebut,  acara siang itu juga dilengkapi dengan kajian kritis dari sisi visual oleh Toto Mujio Mukmin (Kaprodi Fakultas Desain Komunikasi Visual), dan kajian film sebagai media pop kesadaran oleh Gregorius Genep Sukendro (Dosen FIKom dan penikmat Film Indonesia). Acara yang berlangsung selama dua jam tersebut dipandu oleh Ita Sembiring (Moderator dan pengajar FIKom Untar). “Film ini bisa menjadi medium-medium baru alternatif, setelah melihat pelbagai tayangan televisi mau pun berita yang sama. Film bisa menghadirkan diri sebagai gaya berita dengan komunikasi jurnalisme bertutur yang cerdas. Sebagai contoh kita ambil Novel “Saksi Mata” dari Seno Gumira Ajidarma,” kata Gregorius Genep menyoal tema film yang menggangkat tema tentang kondisi korupsi di negeri ini.
Film A Copy of My Mind ini merupakan film dewasa yang religius dan berbeda dari film yang ada pada umumnya.  Menurut Joko Anwar, ini merupakan bentuk film yang membawa harapan kepada generasi muda untuk hidup lebih baik dan hal tersebut ditunjukkan secara emosional dan menyentuh sehingga dapat digunakan untuk merefleksikan diri sendiri. Joko kemudian memotivasi mahasiswa karena dengan anggaran yang terbatas film ini berhasil terpilih dalam 20 projek yang lolos dalam Asian Project Market. Film ini juga berhasil memborong beragam penghargaan seperti: Best Actress untuk Tara Basro, Best Supporting Actor untuk Paul Agusta, Penata suara terbaik dan sutradara terbaik. Melalui film ini pula nama  Indonesia menjadi harum, mengingat film yang pertama kali masuk dalam Venice Film Festival dan terus diputar di berbagai film festival di negara lain seperti Toronto, Busan, Osaka, dan lainnya. Suatu hal yang sangat membanggakan tentunya!  Semoga di masa mendatang lulusan FIKom UNTAR—yang sangat dekat dan minat dengan dunia media film—juga ikut membawa film Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. (GS) [1] Sebuah lagu yang selalu disenandung dalam salah satu stasiun televisi Indonesia, TVRI, zaman 90’an untuk acara Apresiasi Film Indonesia

Berita terbaru

Agenda

1 Okt Dies Natalis ke-63 Untar
3 Okt Research Week Untar
7 Okt Seminar Kebudayaan
7 Okt Pagelaran Wayang
15 Okt Wisuda ke-80 Untar