Batik sebagai Alternatif Kewirausahaan atas Dasar Cinta Indonesia
Selasa, 08 Juni 2021

 

Bangkitkan kreativitas dan kewirausahaan anak Indonesia, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Untar bersama SMP Tarakanita Nasional menyelenggarakan Workshop “Pengembangan Desain Motif Batik sebagai Sarana Edukasi dan Ekonomi Kreatif” yang menghadirkan beberapa dosen Untar sebagai narasumber, pada Selasa (8/6).

Dekan FSRD Kurnia Setiawan, S.Sn., M.Hum. dalam sambutannya menyampaikan, “Batik merupakan kekayaan Indonesia yang sudah diakui dunia. Sebagai bangsa Indonesia, perlu menghargainya.” Dikatakan pula, workshop ini menjadi ajang kolaborasi untuk mendorong anak-anak muda semakin mengenal dan mencintai batik.

“Ketika kita belajar batik, tidak hanya belajar tradisi tetapi juga belajar mengenai nilai dan filosofi yaitu estetika, kreatifitas, keterampilan, komitmen dan sebagainya,” ujar Kepala Divisi Pendidikan Yayasan Tarakanita dalam sambutannya.

Mengawali pemaparan mengenai elemen dan prinsip penyusunan motif batik, Jayanto Ginon Warjoyo, S.Sn., M.Ds. dosen FSRD Untar menjelaskan bahwa efek visual yang menembus dimensi rupa berasal dari adanya kolaborasi elemen visual. “Kolaborasi elemen visual yang menyatu juga bertransformasi dalam suatu konfigurasi seimbang, penyatuan dan keselarasan akan menciptakan efek sensasi visual menembus dimensi dua rupa,” paparnya. Ia juga menjelaskan bahwa pemahaman tentang elemen dan prinsip penyusunan sangat membantu dalam proses perancangan visual motif batik.

“Membatik itu melalui beberapa proses seperti menentukan tema, menggali ide, menentukan pola, menggambar motif, memindahkan gambar ke dalam kain, menuangkan lilin dengan canting, membuat pewarnaan dan menghilangkan lilin pada kain,” tutur Drs. Stephanus Dwiyanto, M.Hum. yang menjelaskan proses pembuatan batik.

Dosen Interior, Maitri Widya Mutiara, S.Ds., M.M. turut memberikan tips dalam membuat perencanaan visual dan cerita dalam promosi, “Tentukan tema dan visual yang serasi, gunakan relasi keluarga sebagai komentator pertama, penggunaan word of mouth seperti mencoba berkolaborasi dengan akun media sosial lainnya, manfaatkan hashtag, membangun interaksi dengan pelanggan, serta kenali waktu untuk melakukan posting menjadi hal yang perlu diperhatikan.” -SA-

-JS-

8 Juni 2021, PKM, KS.


 

Hak Cipta Universitas Tarumanagara © 2018