Menangani Kanker Kepala Leher dengan Teknologi Terapi
Sabtu, 13 Maret 2021

Fakultas Kedokteran (FK) Untar bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Keluarga Besar Medis Buddhis Indonesia (KBMBI) menyelenggarakan Webinar “Paradigma Baru dalam Penanganan Kanker Kepala Leher” secara daring, Sabtu (13/3). Webinar Series FK ke-16 ini bertujuan untuk memberikan pemahaman baru dalam menangani penyakit kanker kepala dan leher dengan berbagai kemajuan pengobatan terapi saat ini.

Mengawali presentasinya, dr. Ralph Girson, Sp.PD (KHOM), memaparkan bahwa kanker kepala dan leher memiliki 65.630 kasus baru di tahun 2020 di Amerika dan termasuk ke dalam jenis kanker lainnya sebesar 3,6%.

“Penyebabnya ialah tembakau, infeksi Human Papillomavirus (HPV), dan infeksi Virus Epstein-Barr (EBV). Kanker ini memiliki kemiripan dan bahkan dapat menjadi kanker paru-paru dan esophagus,” katanya. 

Beliau juga menjelaskan bahwa dalam setiap penanganan kanker, dilakukan dengan pendekatan multi disiplin. “Pendekatan ini dimulai dari pembedahan kepala dan leher yang diperankan oleh bedah onkologi dan dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokkan. Setelah itu dilanjutkan dengan onkologi medis, onkologi radiasi, perbaikan gigi, dan rehabilitasi fisik. Pemberian pengobatan harus dilakukan dengan multi disiplin yang berperan secara adjuvant atau concurrent serta pembaruan pengobatan dan protokol,” ujarnya. 

Melalui presentasinya, dr. Juli Jamnasi, Sp. Onk. Rad., menjelaskan bahwa ada beberapa cara dalam menangani kanker kepala dan leher. 

“Penanganan pada kanker kepala leher, bisa menggunakan bedah, kemoterapi, radioterapi, dan imunoterapi. Perkembangan teknologi yang sangat pesat membantu penanganan melalui radioterapi, menjadi lebih akurat dan jelas agar pemberian dosis obat juga tepat. Fungsi dari radioterapi adalah ia akan mengarah kepada jaringan target untuk membunuh sel kanker. Setelah sel kanker mati, sel yang sehat akan memperbaiki diri. Hal ini membuktikan radioterapi, ampuh untuk membunuh sel kanker yang hendak membelah diri,” katanya.

Beliau juga menjelaskan berbagai faktor yang mempersulit tingkat penyembuhan kanker. “Banyak hal yang membuat kanker sulit disembuhkan. Faktor internalnya seperti banyak penyakit kanker yang belum diketahui atau dipahami, sel kanker yang dapat menjadi kebal terhadap pengobatan, penyakit kanker dapat menyebabkan komplikasi dan penyakit lainnya pada tubuh. Faktor eksternal adalah pasien sudah berada pada tahap akhir atau terlambat, fasilitas, obat-obatan, dan sumber daya yang terbatas,” ujarnya.

Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh dr. Lydia Tantoso, Sp.PD, Fellow of the Indonesian Society of Internal Medicine (FINASIM), mengenai berbagai hal mendalam tentang penanganan, alat-alat, dan langkah- langkah yang harus dilakukan dalam menghadapi kanker kepala dan leher. -AS-

-JS-

13 Maret 2021, KS, PKM.

Hak Cipta Universitas Tarumanagara © 2018