Penyegaran Pembelajaran Humaniora
Kamis, 11 Februari 2021

Untuk membentuk dan menumbuhkan karakter kebangsaan setiap mahasiswa, para dosen pengajar Humaniora memperoleh pembekalan dan penyegaran untuk mencapai kesamaan persepsi dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada para mahasiswa, pada Kamis (11/02) secara luring dan daring. 
Menghadirkan Kepala Perpustakaan Nasional RI Drs. Muhammad Syarif Bando, M.M., Wakil Kepala BPIP Prof. Dr. Hariyono. M.Pd., dan perwakilan dari Lemhannas RI Dr. Silverius Y. Soeharso, S.Psi, S.E., M.M., Psikolog sebagai narasumber, seluruh dosen Untar diharapkan dapat mendistribusikan pembelajaran Humaniora dengan baik. Adapun unsur pembelajaran Humaniora terdiri dari bidang Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia dan Agama.

Diawali dengan laporan dari Wakil Rektor bidang Akademik Untar, Dr. Rasji, S.H., M.H. mengatakan bahwa “Perlu adanya penyamaaan persepsi atau penyegaran, agar mata kuliah humaniora yang menjadi satu kesatuan membentuk karakter kebangsaan mahasiswa, dapat sangat bermanfaat bagi mahasiswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka dari itu diharapkan seluruh dosen pengajar dapat bersinergi memberikan pembelajaran Humaniora dengan baik agar lulusan Untar dapat menjadi contoh yang baik di tengah masyarakat."

Prof. Dr. Ir. Agustinus Purna Irawan menyampaikan dalam sambutan pembukaannya bahwa “Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia dan Agama adalah pembelajaran yang penting karena akan membentuk mahasiswa dan lulusan Untar memiliki karakter kuat dan menjadi pelayan yang baik di tengah masyarakat baik di dunia profesi, pekerjaan dan juga wirausaha. Oleh karenanya kampus Untar sangat memandang penting agar setiap dosen pengajar dapat meng-upgrade dan meng-update kompetensi pengajaran sesuai kehidupan Berbangsa dan Bernegara sesuai UUD. Sehingga dapat mendistribusikan kepada mahasiswa untuk mendapatkan hasil atau luaran dengan bentuk nilai-nilai yang diperlukan dalam kehidupan. Hal ini sesuai dengan nilai yang dikembangkan oleh Untar yaitu Integritas, Profesionalisme, dan Entrepreneurship.

Wakil Kepala BPIP Prof. Dr. Hariyono. M.Pd. di dalam pembahasan Penerapan Nilai Pancasila Dalam Menjaga dan Memelihara Sikap Sosial dan Toleransi mengatakan “Bahwa setiap pelajaran satu sama lain sangat terikat sehingga pendekatan integratif, terindisipliner, dan transdisipliner ini akan menjadi tuntutan bersama. Melihat dari konsep Tri Koro Dharmo atau yang sekarang disebut Jong Java,  yang memiliki pengertian sakti. Dimasa itu anak muda tidak mungkin menguasai kebudayaan Jawa kalau tidak menguasai ilmu pengetahuan, sehingga kecerdasan menjadi sebuah tuntutan untuk merebut kecerdasan. Jika hanya dengan kecerdasan saja, mereka tidak akan menjadi bangsa yang merdeka jika diantara pemimpin dan warganya tidak memiliki budi pekerti yang baik. Orang yang hanya cerdas dan berkarakter tidak akan bisa maksimal membawa bangsanya berdaulat jika tidak ada bakti yaitu mengabdi kepada bangsa dan negara. Pembelajaran bukan hanya didalam kelas, tapi bagaimana kita bisa memberikan sumbangsih terhadap peradaban bangsa dan negara. Dan disinilah pendidikan humaniora memfasilitasi "subyek diri" menemukan dirinya dan mengembangkan "kapasitas belajarnya" dan tugas seorang pendidik dalam proses pembelajaran humaniora untuk mengembangkan kapasitas belajar, menyadarkan diri untuk menghargai kebenaran dan jati dirinya sebagai manusia.

Di dalam penyampaian materi kedua oleh perwakilan Lemhannas RI, Dr. Silverius Y. Soeharso, S.Psi, S.E., M.M., Psikolog dengan judul pembahasan Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Menjaga dan Menumbuhkan Cinta Tanah Air, beliau menyampaikan "Indonesia adalah kita", yang artinya membicarakan Pendidikan Kewarganegaraan mindset-nya bukan aku dan kamu atau  mereka dan kami. Membicarakan Indonesia harusnya urusan kita bersama. Indonesia adalah harga mati, dari Sabang sampai Merauke, ber-Bhinneka Tunggal Ika, ber-Pancasila sebagai sebuah bentuk kesatuan Indonesia, ber-Proklamasi 17.8.45 yang memerdekakan. Implementasinya adalah dengan menerapkan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka serta ber-UUD 45 yang artinya Bangsa ini memiliki satu norma yang harus ditepati bukan kepada perasaan yang ada. Oleh karenanya kesadaran berbangsa harus ditanamkan di setiap individu.”

Disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Agustinus Purna Irawan dalam pemaparan materi Pembelajaran Humaniora Sebagai Penguatan Agama, Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan dan Bahasa Indonesia. “Nilai-nilai karakter, cinta tanah air, keimanan dan juga kemampuan literasi menjadi satu paket yang penting bagi mahasiswa Untar. Sama dengan apa yang dikembangkan di Untar yaitu nilai IPE. Taat kepada TYME, melayani sesama dengan tulus hati, profesionalitas bekerja dalam rangka menghasilkan karya serta jiwa enterpreneurship sebagai penggerak perubahan bukan hanya untuk diri sendiri tapi untuk bangsa, negara dan juga dunia,” jelas beliau. 

Di sesi pembahasan terakhir oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, Drs. Muhammad Syarif Bando dengan topik pembahasan Literasi Kebahasaan Dalam Mendorong Kemampuan Akademik Mahasiswa, dalam materinya beliau mengatakan “Perpustakaan adalah rumah bagi mahasiswa dan masyarakat untuk berubah ke arah yang lebih baik, tempat untuk membedah buku membangun peradaban bangsa, tempat mengolah, mendaya-gunakan dan menyimpan produk berupa hasil pemikiran putra-putri bangsa, institusi terpenting untuk menemukan solusi menghapuskan belenggu kebodohan dan kemiskinan serta wadah mengemban mandat UNESCO untuk mewujudkan fungsi yang berorientasi pada pelayanan nasional, warisan budaya dan infrastruktur budaya.”

Diharapkan dengan adanya acara Penyegaran Pembelajaran, setiap dasar pokok pembicaraan yang telah disampaikan dapat menjadi bagian penting untuk dilaksanakan dalam proses pembelajaran dengan kegiatan yang disesuaikan untuk mahasiswa. Pengajar harus berperan aktif mengajak setiap mahasiswa berkolaborasi bersama. -SS-

-JS-

11 Februari 2021, PKM, KS.

Hak Cipta Universitas Tarumanagara © 2018