Menteri BUMN Mengajak Adaptasi Strategi Bisnis saat Pandemi Covid-19
Kamis, 19 November 2020

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tarumanagara (FEB Untar) kembali mengadakan International Conference on Entrepreneurship and Business Managament (ICEBM) yang ke-9 dengan tema “Post-Covid-19 Pandemic: How Entrepreneurs and Managers Adapt and Reshape Business Strategies”, Kamis (19/11) secara daring.

Kegiatan ICEBM yang rutin diselenggarakan setiap tahun, kali ini menghadirkan pembicara kunci atau Keynote Speaker Menteri BUMN Republik Indonesia Erick Thohir. Adapun pembicara lainnya dari Malaysia yaitu Director Centre For Business Incubation and Entrepreneurial Ventures, Tunku Abdul Rahman University College, Prof. Lim Tong Ming, Ph.D. dan seorang Chief Brand, Design & Insight Officer – Smartfren Indonesia Roberto Saputra. Selaku moderator yang memfasilitasi sesi diskusi, Dosen FEB Untar Dr. Cokki menyampaikan beberapa kesimpulan antara lain mengajak para mahasiswa setelah menyelesaikan studi bukan sebagai pencari kerja tetapi pencipta lapangan kerja dan harus selalu siap beradaptasi serta mengubah pola pikir dalam berbisnis agar bertahan terhadap situasi apapun. 

Ketua Pelaksana Dr. Miharni Tjokrosaputra menyampaikan bahwa pandemi Covid-19 menimbulkan berbagai macam tantangan. Selain perilaku konsumen yang berubah, sektor industri mulai dari kepemimpinan, praktik manajemen pun ikut berubah. “Praktisi bisnis perlu berpikir secara bijak dalam memahami konsumennya. Banyak perusahaan yang terus bergerak maju karena sadar akan perilaku konsumen yang telah berubah, membuat mereka juga menyesuaikan bisnisnya (reshape/rebuild) agar dapat bertahan selama pandemi.”

Rektor Untar Prof. Dr. Ir. Agustinus Purna Irawan pada pembukaan menyampaikan bahwa meskipun  penyelenggaraan ICEBM tahun ini diadakan secara daring, namun panitia ICEBM tetap semangat dengan seluruh partisipan yang tetap antusias. ”Dalam kondisi saat ini terlepas dengan banyaknya perusahaan yang mengalami kemunduran, ada banyak  perusahaan yang dapat mengubahnya menjadi kesempatan untuk bangkit dan lebih maju.”

 

Menteri BUMN Republik Indonesia Erick Thohir menegaskan bahwa sejak awal Pandemi Covid-19, pemerintah tidak tinggal diam dan selalu berusaha menanggulanginya. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini juga ikut terimbas. Pada kuartal ketiga tahun ini, telah mengalami penurunan hingga 3,49%. Hal ini lebih baik jika dibandingkan dengan negara maju lainnya yang mengalami penurunan ekonomi hingga belasan persen. Covid-19 menuntut Indonesia dan seluruh negara didunia untuk beradaptasi dan menjalani proses belajar cepat yang belum pernah diduga sebelumnya. Kemunduran banyak negara besar itu harusnya menjadi peluang kita untuk mengejar ketertinggalan. Inilah saat Indonesia membenah diri termasuk BUMN. Saatnya kita menjadikan krisis ini sebagai peluang dengan lompatan-lompatan besar.”

“Terlepas dengan berbagai impact negative dari pandemic Covid-19, kita juga bisa mengambil impact positif yang timbul, seperti perkembangan pada beberapa sektor industri misalkan industri teknologi. Dikarenakan kebijakan untuk tetap di rumah, seluruh kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara online, ini adalah satu-satunya cara untuk mempertahankan pendidikan agar dapat bergerak maju. Selain perkembangan pada sektor e-commerce dan delivery service, dunia industri kreatif juga dipaksa menjadi kreatif, seperti halnya acara hiburan televisi “Saturday Night Live yang membuat episode pertamanya dengan konsep dari rumah saja,” ujar Prof. Lim Tong Ming, Ph.D. dalam pemaparannya.

Roberto Saputra yang merupakan seorang praktisi menyampaikan hasil observasinya selama 20 tahun berdasarkan pengalaman sejak berkecimpung dalam dunia sales. “Semuanya bermula dari pola pikir. Terlepas dari besar atau kecilnya suatu bisnis akan mampu bertahan 5 hingga 10 tahun kedepan jika mereka berpikir “future-today” dan ini penting bagi yang lain untuk mulai melakukan dengan memandang masa depan adalah hari ini.  Isu yang kita alami saat ini adalah perlunya menjalankan bisnis dalam dunia dimensi, artinya mengoperasikan bisnis seraca offline karena kontribusi transaksi fisik masih sangat besar. Di waktu yang bersamaan, perlu mengantisipasi masa depan yaitu dunia digital.”

ICEBM yang tahun depan akan berusia sepuluh tahun, bekerja sama dengan beberapa universitas dalam dan luar negeri sebagai pendukung acara antara lain KunShan University Taiwan, Tunku Abdul Rahman University College (TAR UC) Malaysia, Trisakti School of Management, Universitas Bunda Mulia, Universitas Krida Wacana, dan Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) serta berbagai partisipan dari Taiwan, Malaysia, India, Canada, Vietnam, El Savador, dan Indonesia. -JS-

-JS-

19 November 2020, PKM, LIT, KS.

Hak Cipta Universitas Tarumanagara © 2018