Implementasi Humanisme Katolik dalam Menghadapi Pandemi
Minggu, 26 Juli 2020

Rektor Untar Prof. Dr. Ir. Agustinus Purna Irawan menjadi narasumber dalam kolokium online "Covid-19 dan Humanisme Katolik" yang diselenggarakan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Nasional (LP3KN), Sabtu (26/7).

Turut hadir sebagai narasumber Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero Rm. Dr. Otto Gusti Ndegong Madung, SVD, Uskup Keuskupan Pangkalpinang Mgr. Adrianus Sunarko, OFM, Direktur Direktorat Pancasila Vox Point Indonesia/Manager Character Building Development Center (CBDC) Universitas Bina Nusantara Dr. Frederikus Fios, S.Fil., M.Th., dan Anggota DPR RI Hillary Brigitta Lasut, S.H., LL.M. Acara dibuka Ketua Umum LP3KN Prof. Drs. Adrianus Eliasta Meliala, M.Si., M.Sc., Ph.D., dan dimoderatori Yeremias Jena S.S., M.Hum., M.Sc.

Prof. Adrianus berharap kolokium ini dapat berguna bagi masyarakat, khususnya yang beragama Katolik di masa pandemi. "Semoga acara ini dapat menyadarkan orang Katolik akan panggilan dan keterlibatan sosialnya selama masa pandemi Covid-19 berdasarkan Iman Katolik dan sebagai Warga Negara Indonesia," ucapnya.

Rektor dalam paparan berjudul "Implementasi Nilai-nilai Pancasila dalam Masa Pandemi Covid-19" mengatakan bahwa meskipun pandemi telah mengubah berbagai hal dalam kehidupan kampus, nilai-nilai Pancasila tetap diterapkan dalam keseharian Untar. "Implementasi nilai-nilai Pancasila dilakukan dengan berbagai tindakan nyata seperti taat aturan  melaksanakan pembelajaran online sesuai anjuran pemerintah, kegiatan empati dan berbagi kepada sesama, tetap produktif di tengah keterbatasan, dan membuat berbagai terobosan baru. Kegiatan ini mungkin kecil, tetapi manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dan Sivitas Akademika Untar," ungkapnya.

"Untar sebagai perguruan tinggi patut bersyukur dan selalu berpikir positif di tengah situasi sulit, memiliki kasih dengab berbagi dan bersatu melawan Covid. Menjadi seratus persen Pancasila, seratus persen Indonesia merupakan bentuk ekspresi humanisme Katolik yang terefleksikan pada keunggulan yang dimiliki," sambung Guru Besar Teknik Mesin tersebut.

Memaparkan dalam tinjauan filosofis dan etika Katolik, Rm. Otto menuturkan bahwa pandemi Covid-19 membuat manusia tersadarkan kembali. "Inti dari Humanisme Katolik adalah ajaran dan praksis hidup Yesus yang terungkap dalam tindakan kasih. Pandemi Covid-19 menyadarkan dan membuka kembali kesamaan antara umat manusia lewat kerentanan universal atau common vulnerability, karena tidak memandang agama, ras, budaya, status sosial, dan bangsa. Hal ini yang menjadi basis persaudaraan dan solidaritas antarumat manusia," jelasnya.

Membawakan Perspektif Ekologis dan Persaudaraan Lintas Iman, Dr. Frederikus menjelaskan relevansi Ekologi Katolik terhadap kondisi bumi saat ini. "Ekologi Katolik berdasarkan perspektif Laudato Si adalah Ekologi Integral-Terpadu yang meliputi keseimbangan harmonis menuju kebaikan bersama dan keutuhan ciptaan berkelanjutan," tuturnya.

"Covid-19 adalah kesempatan atau panggilan untuk bertanggung jawab terhadap alam, diri sendiri, dan sesama manusia menuju keberlanjutan ekologis yang lebih lestari," lanjut Ketua Stasi Santo Laurensius Parung Panjang, Paroki Rangkas Bitung Keuskupan Bogor tersebut.

Brigitta Lasut dalam "Upaya Membangun Solidaritas Sosial Generasi Muda pada Masa Pandemi Covid-19" berpesan kepada kaum muda untuk lebih kritis di masa pandemi ini. "Maraknya hoax di masa pandemi dapat membuat perpecahan. Maka, saya harap orang-orang muda Katolik khususnya, dapat berpikir kritis menyaring informasi dan tidak mudah percaya hoax, sehingga dapat merespon sesuai cerminan sebagai umat Katolik," pungkasnya.

Menurut Mgr. Adrianus, masyarakat harus bersikap realistis tanpa kehilangan harapan dalam menghadapi pandemi. "Pandemi ini bukan berasal dari Tuhan dan bukan hukuman-Nya, melainkan keterbatasan dunia atau kesalahan manusia. Maka, kita semua harus semaksimal mungkin berusaha mengatasi, serta memiliki solidaritas saling membantu dan meneguhkan. Kita juga harus menerima kenyataan bahwa ada kendala, tetapi tidak boleh kehilangan harapan," pesannya.

Acara ini disiarkan langsung melalui aplikasi Zoom dan kanal Youtube PESPARANI Katolik. Ratusan peserta hadir pada kolokium yang dipandu Lisa A. Riyanto. -AW-

-JS-

26 Juli 2020, KS, PKM.

Hak Cipta Universitas Tarumanagara © 2018