FK Untar Peduli Kualitas Hidup Lansia
Sabtu, 25 Juli 2020

“Fakultas Kedokteran Untar mempunyai keunggulan dalam bidang manajemen lanjut usia (lansia) yaitu melaksanakan penanganan terpadu bagi lansia secara menyeluruh dan holistik. Saya berharap acara ini dapat bermanfaat bagi semua dan menjadi bekal agar  dapat memahami bagaimana penanganan pada lansia secara holistik,” ujar Dekan FK Untar Dr. dr. Meilani Kumala, M.S., Sp.GK (K) pada Seminar Online “Geriatric: Ready to Face New Normal Era” di sesi pertama seputar Neuroscience, Sabtu (25/7).

Acara ini merupakan hasil kolaborasi dengan PT. Mersi Farma, IDDI bersama Tim Terpadu FK Untar dengan menghadirkan dr. Irawati Hawari, Sp.S. yang membahas “Tending Elderly with Neurodegenerative Disease” dan Dr. dr. N. Saelan Tadjudin, Sp.KJ yang berbagi seputar “Behavioral and Pshycological Symptoms in the Elderly”. Dimoderatori oleh Dr. Evi, Sp.KJ, acara ini dilaksanakan secara live melalui Youtube dan aplikasi Zoom.

Dalam pemaparannya, dosen FK Untar yang juga berpraktik di RS Royal Taruma ini menjelaskan bahwa pada lansia, kerja otak akan mengalami degenerasi sebanyak 15%. Salah satu symptom, Significant Cognitive Decline yang terjadi pada lansia mengakibatkan adanya gangguan dalam berbahasa, complex attention (mengalihkan, memusatkan mempertahankan), kesulitan multi-tasking, kehilangan fungsi eksekutif, serta gangguan fungsi sosial. “Kondisi kita saat ini merupakan kesempatan untuk menjalani Non-drug treatment terhadap lansia yang ada dirumah. Beberapa hal yang dapat dilakukan misalnya; Talking therapy, konseling, pshyco-therapy, dan reminiscene (melatih memori melalui obrolan mengenai masa lalu). Alternatif terapi seperti massage, musik, aromatherapy, serta olahraga terbukti dapat membuat lansia lebih bersemangat.”

dr. Irawati Hawari, Sp.S. menjelaskan bahwa, Neurodegenerative merupakan gangguan yang akan mengakibatkan kamatian dari sel-sel saraf dari bagian tertentu pada otak. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan, berbicara, pernapasan, gerak, serta detak jantung. Walaupun penyakit ini biasanya genetic, namun tidak menutup kemungkinan lain dikarenakan oleh ketergantungan pada alkohol, tumor, stroke, toxin, chemical, maupun virus. “Penyakit Neurodegenerative sangat besar pengaruhnya terhadap kualitas kehidupan seseorang. Dengan memahami penyakit Neurodegenerative ini, kita dapat membantu berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup lansia. Kita perlu melakukan pendekatan holistik, multi disiplin ilmu, bukan melihat dari pengobatan saja namun juga melalui biologi, pikologosi, sosial, serta spritual,” lanjut dosen FK Untar ini.  -JS-

-JS-

25 Juli 2020, KS, PKM.

Hak Cipta Universitas Tarumanagara © 2018